Sunday, 27 November 2011

My 'Ndesit' Guest


Dulu saya bisa saja nyombong mengatakan bahwa semua tamu hotel yang saya temui selama beberapa tahun ini bekerja di hotel adalah orang-orang hi-end dan sophisticated yang menganut aliran hedonis semua. Saya sampai menertawakan seorang dosen housekeeping yang cerita tentang betapa ‘ajaib’nya beberapa tamunya yang orang distributor daerah yang kebetulan mendapatkan bonus menginap di hotel bintang 5 di ibukota. Ada yang hanya pakai sandal jepit, ada yang pakai celana kolor, hingga bersarung! Apa coba? Yang lebih membuat saya terpingkal-pingka adalah, ada seorang bapak-bapak salah satu anggota group itu juga, jalannya nunduk-nunduk sambil nuwun sewu dan.. nyeker! Iya, sandal jepitnya di-cangking gitu aja, gara-garanya si bapak di kampung kalau masuk rumah kan sandalnya dilepas gitu loh! Hahahaha… Saya kira itu hanya lelucon atau mitos penghibur di sela-sela matakuliah yang membosankan. Eh… ladalah ternyata saya juga mengalami hal yang kurang lebih sama beberapa hari yang lalu.

Ceritanya, hotel kedatangan grup besar komunitas seni dan budaya yang mendapatkan support dari pemerintah daerah. Ada sekitar 500 orang yang datang, dan bakalan menempati sekitar 220 kamar. Jadi, per kamarnya dihuni 2-3 orang. Karena semuanya sudah diprepare malam sebelumnya, saya kira semuanya akan berjalan dengan lancar. Tak ada firasat suatu hal yang aneh bakalan terjadi.

Mulai jam 10 pagi, segerombolan peserta mulai datang. Pesan dari panitia, setiap peserta yang datang harus registrasi dulu di meja panitia yang kemudian harus ke ruangan di ujung lobby untuk difoto dan mendapatkan kartu peserta, baru kemudian registrasi di front desk untuk check in. Well, sepertinya akan gampang kalau yang saya hadapi itu bukan orang daerah. Masalahnya, begitu masuk lobby mereka langsung menyerbu konter front desk. Bagus lah kalau antri, masalahnya ini menggerombol aja sampe receptionisnya gak keliatan karena ketutupan orang segitu banyaknya. Saya datangi dan meminta mereka untuk registrasi dulu ke panitia, eh… saya tidak digubris. Beberapa teriak-teriak memanggil temannya dan beberapa sibuk ngerumpi sendiri. Seorang bellman mencoba mengatur koper yang berserakan gak karu-karuan di depan konter, eh.. malah dipelototin sama yang punya. Takut hilang, katanya. Ya oloh….

Menyerah, sayapun memanggil panitianya dan meminta mereka sendiri yang mengurus proses registrasi awal karena usaha saya gagal. Si panitia dengan wajah memelas, membujuk beberapa anggota menuju ke desk panitia. Dengan susah payah, dibantu olah lima rekan yang lain, lumayan lah konter saya sedikit terselamatkan. 
Selang dua jam, para peserta kembali menyerbu konter front desk untuk check in. bener-bener ini hotel udah kaya konter pembagian sembako saking ramai dan kacaunya. Tiap orang berdesak-desakan maunya dapat kamar duluan. Padahal gak pakai ngotot juga, mereka semuanya bakalan kebagian, kan? Tapi kok ya gak ada yang mau mengerti kalau dikasih tau. Duh!

Urusan check in kelar, beberapa rombongan sudah siap menuju ke kamar. Kalau tamu biasa sih, meskipun baru pertama ke hotel ini, tinggal ditunjukkan mana liftnya saja, mereka sudah tahu. Tapi kalau group ini??? Saya harus mengkoordinir beberapa gelombang yang saya harus antarkan sampai ke kamar. Jangankan tahu fasilitas kamar, cara naik lift aja mereka gak tahu loh. Beneran. Malah dari beberapa orang yang saya antar, ada yang duduk jongkok sambil pegang kepala saat lift naik karena pusing dan takut. Nah lo?? Saya sampai gak ngerti apa saya harus tertawa atau menangis saking 'takjub'nya.

Selesai mengantarkan mereka semua ke kamar, saya balik ke konter dengan lutut berasa mau lepas. Duh cuapeknya! Saya sempat mendengar seorang tamu dari grup yang sama protes karena dia ditempatkan sekamar dengan anggota lain yang laki-laki. Hahahaha… ini gimana sih panitianya?? Karena pihak hotel menerima rooming list dari panitia sudah lengkap dengan nama sharer-nya. Masa panitia tidak bisa bedakan mana yang laki-lai mana yang perempuan??? Saya beniat mau minum sebentar ke pantry ketika seorang tamu mencolek punggung saya. Sayapun reflex menoleh dan oh No! tamu dari group itu lagi!! 
“Mbak, ini gimana ya tadi saya keluar sebentar ke kamar teman saya tapi saya lupa kartu (kunci maksudnya) saya tertinggal di dalem, saya tak bisa masuk kamar saya lagi… ”

Hiks hiks hiks, kali ini saya memang harus menangis saking ‘gemes’nya.
  

5 comments:

Post a Comment