Friday, 18 November 2011

Kakiku Sayang, Kakiku Malang...


Di hotel tempat saya training, saya mendapatkan fasilitas seragam lengkap dengan segala atributnya. Mulai dari ikat pinggang, name tag, hingga sepatu. Dan dari sinilah peristiwa ‘menyedihkan’ itu dimulai….

Sepatu yang dibagikan ini, terbuat dari kulit imitasi yang keras kalau dipakai. Bentuknya sih ‘standart’ saja… ‘trepes’ begitu atau flat shoes, bahasa kerennya. Berwarna cokelat agak tua, yang bolong di ujungnya semacam selop. Seharusnya sih… ini sepatu nyaman digunakan. Tapi dasar Resort dimana saya training ini ‘pekarangannya’ luas banget, dan saya harus mondar mandir tiap hari… jadilah sepatu ‘sialan’ itu tak bersahabat dengan kaki saya. Kakipun melepuh di bagian bawah jari-jarinya, di bagian mata kaki juga lecet-lecet dan membekas sampai sekarang. Saya menertawainya sebagai ‘stempel’ lulus training di resort itu… karena ternyata semua trainee juga mengalami hal yang sama.


*)kiri: Kaki saya yang 'mengenaskan' kanan: sepatu sialan

Saking stressnya dengan sepatu sialan itu, saya pun ngadu ke Tak saya yang saat itu masih di London, UK. Tak sepertinya ‘santai’ saja mendengar keluhan saya yang ‘setengah mati’ gak bisa adaptasi ma sepatu. tak lalu menyarankan membuat sepatu sendiri yang bahannya lebih nyaman… sayang Resort tidak mengizinkan. Semua atribut dan seragam yang dipakai harus dari resort. Jadilah saya hanya bisa mengeluh.
Lucunya, dua bulan kemudian datanglah pak pos mengantarkan paket kiriman dari London… saya kira isinya apa… eh ternyata beberapa blister semacam plester kaki begitu dan sponge alas kaki supaya kaki gak lecet. Nah lo, jauh-jauh dari London loh ini!!!

*)Oleh-oleh dari Tak nun jauh dari London

Pindah kerja, ternyata penderitaan kaki saya belum berakhir. Incharge sebagai VIP relations, saya harus berpenampilan super ‘cewek’. Harus mengenakan rok panjang yang ada belahannya, berstoking, berselendang dan… eng ing eng… ber high- heels!!!! Kalau yang satu ini buat saya bukanlah high heels tapi high hell *)ketawa setan. Saya sudah wanti – wanti beli sepatu super mahal supaya kaki saya nyaman. Tapi loh ternyata kaki saya yang ndeso ini tetep aja gak mau kompromi dengan high hell sialan, pulang kerja adalah saat yang paling saya tunggu karena kaki saya sudah teriak-teriak, pegel luar biasa. Mengikuti saran seorang teman, saya berniat membeli koyo. Kata teman tersebut, pakai koyo di daerah yang pegal rasanya seperti dipijit-pijit. Sayapun mencoba. Saya tempel koyo di beberapa bagian kaki, di telapaknya, di punggung telapak, dan di betis. Lalu saya mencoba tidur. Apakah yang terjadi??? Bukannya saya malah terlelap karena merasa dipijit, malahan saya tidak bisa tidur sama sekali karena si koyo menyiksa kaki saya semalaman. Kulit saya serasa terbakar karena kepedesan. Gak tahan, sayapun mencopot koyo sialan dari tempatnya. ‘Krek!’ Wadaaaaaaaaaaaawwwwwww….. beberapa bulu kaki saya tercerabut dari akarnya dan rasa ‘pedas’ tak juga hilang semalaman. Sial!

2 comments:

wong Londho said...

direwangi sampek kaki lecet2.. demi sesuap nasi dan secuil berlian...
bener2 perjuangan..
Tapi pasti indah pada akhirnya...

Anna Swan said...

Amiiiinnnn...

Post a Comment