Thursday, 24 November 2011

Balada Porter


Kalau bicara masalah tip… saya kok bawaannya keinget porter ya? Buat saya yang setiap harinya di hotel, setiap kali melihat porter kerja, setiap kali itu pula saya melihat mereka di-tip. Ooopsss.. sepertinya saya salah sebut. Porter di hotel punya nama yang lebih elit, yaitu bellman. Mereka juga punya section tersendiri yaitu section bell desk yang biasanya bergabung dengan concierge atau berdiri sendiri di bawah Front office department.

Meskipun elit, kerjaannya toh bagi saya kurang lebih sama – ngangkut koper segede gaban—meski gak semuanya tamu bawa koper. Ada beberapa yang bawaannya berupa tas golf sepanjang hampir 2 meter, tas ransel yang bueratnya alamak, bantal guling boneka (ini mau nginep di hotel apa mau kemping di pekarangan rumah???), sampai bawaan yang dibungkus kardus bekas (iya kardus! Mirip penumpang bus di terminal, hehehe... maap! Bedanya, yang namanya porter itu ngangkut barang ya main angkut aja, kalau bellman biasanya dibekali dengan troli sangkar burung dan troli dorong yang bagus dan mengkilap. Meskipun ada troli, seringnya saya merasa kasihan karena kadang-kadang tamu tak berperike-koper-an. Yang nginap cuma 3 orang (2 dewasa dan 1 anak), tapi bawaannya 2 troli! Lah mau nginep 2 hari aja bawaanya segini banyak, gimana mau pindah rumahnya ya??? Selain troli, kalau di resort-resort besar, saya perhatikan porternya juga dibekali dengan buggy, atau apa ya namanya. Yang jelas ini sejenis mobil bak terbuka yang bagian depannya dimodifikasi sedemikian rupa hingga tak berpintu dan tidak berdasbor.  

*)Salah satu model buggy--tapi yang ini untuk tamu
Source:Google

Profesi bellman/porter ini, meski bagi sebagian orang dinilai sebelah mata, bagi beberapa orang tertentu bagian inilah yang malah dicari. Alasannya?? Ya karena disinilah lahan basah yang paling basah dari keseluruhan departemen yang ada di hotel. Umumnya, orang lokal memberi 5ribu-10 ribu per kopernya. Sedangkan orang bule kebanyakan ngasih sedolaran per koper. Saya kadang-kadang iseng berhitung sendiri berapa pendapatan seorang bellman per harinya. Kalau dalam 1 shift (8 jam kerja) seorang bellman minimal mengantarkan 10 kali, dan setiap kalinya paling apes dapat 5ribu… sehari itu dia sudah dapat 50ribu kan??? Padahal tiap harinya mereka mengantar barang bawaan tamu hingga puluhan kali.

Dulu waktu masih di Bali, saya berkesempatan training di section ‘basah’ ini. Hari pertama, saya diajak seorang bapak bellman senior mem-pick up luggage di beberapa kamar rombongan orang Jepang. Karena barangnya pasti banyak, beliau membawa buggy. Saya jadi ‘kernet’nya saja. Mengambil koper-koper dari kamar ke kamar memang sangat menguras keringat, tapi begitu kami tiba di lobby, cewek-cewek Jepang yang bening-bening itu langsung menyerbu, mengambil koper masing-masing dan setiap orang menyelipkan tempelan sedolaran! Hahahaha.. sekejap saja saya sudah mengantongi 23 dolar, yang saat itu sedolarnya senilai 9ribuan. Hehehehe…  sayang bapak-bapak tersebut besoknya tidak mengajak saya pick up luggage lagi… mungkin takut tip-tipannya diembat sama saya. haha!

Saya pernah mendengar cerita sari salah seorang dosen front office saya semasa kuliah. Salah satu teman lamanya ada yang berprofesi sebagai seorang bellman di hotel di Jogjakarta. Namanya pak Rahman. Sudah bekerja selama 12 tahun (catatan: hingga sekarang) dan tetap setia menjadi bellman. Kalau anda mengira pak Rahman ini tidak berprestasi, itu salah. Beliau malah menjadi salah satu staff of the year di hotel tersebut, dan bukan berarti beliau tidak mendapatkan promosi. Pak Rahman selalu menolak promosi apapun karena alasan sederhana: gaji sebagai manager sekalipun tak bisa menandingi penghasilan beliau per bulan katanya. Hahahaha….

2 comments:

Post a Comment