Monday, 26 September 2011

ABG Labil, Bintang Korea and Meeting Direksi

Baru saja kemarin hotel saya kedantangan tamu seorang actor Korea yang konon katanya (soalnya saya tidak kenal, hehehe!) terkenal sekali di negeri asalnya. Jangan tanya saya namanya siapa, karena tamu tersebut incognito alias tidak mau diketahui identitasnya selama di hotel. Tapi dengar-dengar bintang korea ini namanya hangeng atau hongeng gitulah tak jelas, secara saya juga bukan pecinta film drama Korea and know nothing about Korean name.

Ceritanya, si bintang Korea ini mau premier film terbarunya dan mengadakan promo tur di berbagai negara, salah satunya Indonesia, yang kebetulan, singgah di Jakarta dulu sebelum sampai di Surabaya. Jadi berita kedatangannya, sudah diketahui oleh fans-fansnya yang gilaaaa… para abg-abg labil yang hobinya jejeritan. Maklum, sang bintang yang cute dan unyu-unyu ini, sudah lama sekali dinantikan kehadirannya di Indonesia.

Yang bikin dongkol, fans-fansnya yang di Surabaya sini ternyata jauh lebih heboh ketimbang fans-fansnya di tempat lain. Hotel yang biasanya tenang dan lengang, mendadak ramai luar biasa berasa di Shopping mall. Sang bintang ke ruang ‘A’, fansnya grudak-gruduk menyerbu ruang ‘A’. Sang bintang ada jumpa pers di ruang ‘B’, fans langsung menyerbu ruang ‘B’. Iiiihh…. Saya sampai risih sekali melihatnya.

*)Hangeng yang Unyu-unyu--source: google

Sang bintang dijadwalkan akan mengisi acara di shopping mall terbesar di Surabaya, tapi gak jadi tampil karena sang bintang gak bisa keluar hotel saking banyaknya fans yang sudah ‘nyegat’ baik di dalam maupun di luar hotel.  Jadilah, sang Bintang stuck dan mengisi jumpa pers di ruang meeting ‘A’. dan fans yang ada di luar benar-benar tak bisa dikendalikan. Meski bodyguard yang dikerahkan cukup banyak, fans masih juga bisa menyeruak masuk. Meski tak bisa masuk di meeting room tempat sang bintang jumpa pers, fans-fans tersebut jejeritan tak karuan melihat bayangan sang bintang dari balik kaca, tak perduli banyak tamu lain yang sedang meeting di meeting room sebelahnya.

Alhasil, komplainpun berdatangan karena suara ribut-ribut ini. Saya yang kebetulan naik ke lantai 2 menuju ke health Club dan harus melewati koridor meeting room,  hamper-hampir tak bisa lewat karena fans-fans tersebut memblocking jalan. Di ujung koridor, seorang bapak-bapak (dari penampilannya sepertinya beliau salah satu peserta meeting) dari meeting room ‘C’. Tak Cuma men’cegat’, dengan tampang marah, bapak-bapak tersebut menghardik saya.
“Ini Hotel bintang 5 kok kaya pasar sih, berisik banget.”
“Ma..ma..af… Pak..” Saya memelas.
“ Anda tahu tidak, di dalam kami sedang meeting direksi. Tapi kami semua tak bisa konsen meeting karena suara di luar berisik!”
“……..”
Saya menunduk dalam-dalam, tak tahu harus berkata apa lagi.
“Tapi memangnya ada apa sih, kok rebut sekali?”
“Ada artis Korea Pak, yang ribut-ribut itu fansnya…” Saya masih memelas, menunggu respon bapak-bapak kantoran ini yang air mukanya seperti gunung berapi status siaga satu.
Tanpa disangka-sangka…  reaksi si bapak-bapak melunak,
“Kok saya gak tahu ya? Wah.. anak saya pasti suka ni… tahu gitu saya bawa sekalian anak saya ke Surabaya, Mbak..Mbak!”

Wtf, ternyata anak direksi juga ngefans bintang Korea! Hhhhh…

Enak dan Gak Enaknya Kerja di Hotel

Sebagai seorang hotelier yang lingkup kerjanya ya melulu di hotel, kadang-kadang saya sering mendapat pertanyaan kanan kiri dari beberapa teman dan tetangga, “sebenarnya, apa sih enaknya kerja di hotel?” well, rasanya kok tidak adil kalau saya jawab kerja di hotel itu enak, karena pada dasarnya setiap pekerjaan itu ada enak dan tidaknya. Untuk itu, mewakili semua pertanyaan yang selama ini bersliweran, saya akan uraikan sedikit mengenai enak dan gak enaknya kerja di hotel.

*Note: yang saya maksud disini yang frontliner saja, sesuai dengan department yang saya geluti.

ENAKNYA:

  • Gaji yang terdiri dari  3 sumber, yaitu gaji pokok, service charge, dan tip (kalau beruntung). Selain gaji, meal allotment (jatah makan) juga didapat di kantin hotel. Biasanya 1x per shift sak warege kata orang Surabaya (sekenyang-kenyangnya kalau mau), tapi kalau mau 3x juga  bisa, syaratnya putusin dulu urat malu anda!
  • Gak perlu pusing mikirin seragam kerja yang belum sempat tercuci, karena hotel (ini yang 5star loh..) biasanya punya laundry sendiri. Kalau mau incharge, tinggal menukarkan uniform card ke laundry counter dan seragam yang sudah bersih dan wangi sudah siap dipakai.
  •  (ini yang paling sering kejadian) Air di kosan mampet! So, what I have to do? Tenang bro, hotel kan punya loker yang dilengkapi dengan wastafel dan shower (ada air panasnya lagi) lengkap dengan handuk, sabun cair dan shampoo. Kalau air di kosan tiba-tiba mampet ya.. langsung aja ngibrit ke hotel. Hehehe… kadang-kadang selesai kerja juga saya seringnya berlama-lama mandi air panas di loker yang saya guyurkan di belakang leher dan punggung. Berasa dipijat, pulang kerja  saya sudah fresh dan relax.
  • Ruang kerja yang nyaman dan sejuk (karena ber-AC), bersih dan selalu terlihat kinclong.
  • Dapat fasilitas kelas bahasa asing yang difasilitasi HRD. Gratis! Kalau mau, ada juga kelas aerobic seminggu sekali dan kelas music. Kalau ada banyak waktu ya hayuk aja!
  • Customer yang datang rata-rata ‘orang gedean’ yang dandanannya cantik, ganteng dan wangi. Yang meskipun kadang-kadang tidak suka senyum, tapi enak dipandang. Kalau beruntung, bisa ketemu dengan artis ibu kota sampai pejabat. Bandingkan dengan dokter yang customernya orang-orang sakit yang berhari-hari gak mandi. Hiiiiyyyy… ya, gak?
  •  Jenjang karir jelas (dengan catatan harus rajin belajar dan berprestasi di tempat kerja loh ya..)
  • Dapat harga khusus associate jika ingin menginap di hotel dimana anda bekerja, dan di chain-chainnya (jika hotel anda adalah chain hotel), dan harga special untuk produk-produk/ souvenir khas hotel dimana anda bekerja.
  • Rata-rata di hotel bintang 5, fasilitas wifi biasanya tersedia di lobby dan public area, yang seringnya ‘nembus’ sampai loker dan area back house. So, nikmatilah saat-saat istirahat anda dengan internetan sepuasnya!
  • Jadi hotelier tak perlu kuliah dengan gelar berentet. Kerja di hotel hanya perlu skill. Kuliah perhotelan 1 tahun, bagi saya sudah cukup, asalkan didukung dengan pengalaman training di hotel yang berkualitas dan ditunjang dengan penguasaan bahasa asing yang bagus, tentunya. Sikap ramah, bersahabat dan murah senyum, juga jadi syarat utama yang harus ada.
  • Sakit? Ke klinik saja. Ada dokter dan ada obat. Gratis! Kalau ke rumah sakit, biasanya hotel punya kerjasama dengan beberapa rumah sakit tertentu, jadi tak perlu pusing masalah berobat, karena sudah menjadi bagian dari fasilitas associate.
  • Ketemu dengan berbagai macam orang asing. Bagi saya ini keuntungan tersendiri, karena selain bisa memperlancar bahasa Inggris saya dan bahasa asing non British lainnya seperti bahasa Jepang, saya juga banyak belajar mengenai kebiasaan-kebiasaan unik mereka. Kalau beruntung, kadang-kadang ada tamu asing yang suka membawa oleh-oleh dari negaranya dan dibagikan kepada staff hotel. Sewaktu di Bali, paling sering saya dapat permen susu dari tamu Korea, perangko Jepang dan mata uang asing dari berbagai Negara (jadi, sebisa mungkin jalinlah komunikasi yang baik dengan tamu anda)

Mmm…  kalau dipikir-pikir enak juga yah kerja di hotel. Eiiiitt…! Tunggu dulu! Sekarang saya mau kasih tahu gak enaknya kerja di hotel.



*)Koleksi Japanese stamp saya yang suka dikasih oleh salah satu repeater guest Jepang saya yang baik hati

GAK ENAKNYA:

  • Kerja seperti pembantu. Mau salah mau bener, yang namanya tamu adalah Raja. Yang namanya Raja pasti gak mau ngalah. So, harus pinter-pinter tahan diri  dan emosi jika sedang sial menghadapi tamu yang galak dan sok ‘raja’.
  • Yang namanya Frontliner kerjanya gak ada yang duduk! Semuanya berdiri sampai kram. Gak perduli jabatan anda manager, ya harus berdiri dan pasang senyum seharian karena anda sedang berada di Hospitality Industry. Kecuali kalau harus feed back email dan me-‘report’ (baca: repot) sana sini, baru deh bisa duduk.
  • 98% survey membuktikan, bahwa tamu yang tidak puas dengan pelayanan hotel entah itu di restaurant-nya, health club-nya, atau kamarnya, pasti deh ngadunya (baca: complainnya) ke Frontliner! Kadang-kadang, saking bernafsunya itu tamu saat complain, berasa semua kesalahan ada di frontliner. Ya dimaki-makilah, ya dimarahinlah… sudah jadi makanan sehari-hari.
  • Seringnya pulang gak bisa on time and bahkan seringnya harus  extend sukarela karena harus menyelesaikan tanggung jawab dan hand over ke shift berikutnya.
  • Repot ber-make up. Buat saya yang gak suka dandan, ber make-up adalah sebuah kerepotan tersendiri. Selain repot, waktu yang harus saya luangkan untuk make up juga lumayan, sekitar 20 menit. Means, 20 menit kalau dikonversikan dengan gaji saya per bulan kan nilainya lumayan, hehehe…Ooopppss! Perhitungan sekali ya saya...
  • Sekali lagi, kerja seperti Pembantu! Tamu yang bossy seringnya banyak maunya. Kadang-kadang harus multi skilled alias mengerjakan apa yang di luar job desc kita demi melayani tamu. Kali ini sih, bukan pembantu lagi, tapi Babu!

So, masih tertarikkah anda bekerja di Hotel???

Sunday, 25 September 2011

Break Sejenak dengan Rutinitasku


Dua bulan sudah saya vacum jarang menulis lagi… rasanya kangen sekali karena selama dua bulan itu banyak kejadian-kejadian yang rasanya wajib saya ceritakan. But, karena waktu yang hampir-hampir tidak ada, seperti biasa ide-ide yang ada terpakasa saya tulis sporadic di catatan kecil saya dan dipending dulu untuk digarap lain waktu kalau memang ada waktu luang. Yah, seperti sekarang ini contohnya.

Ehm..ehm… sok sibuk sekali ya saya….

Yah, begitulah kawan.. dua bulan ini saya mati-matian kejar target untuk karir dan kuliah. Bagi saya yang seorang pekerja full time apalagi yang jam kerjanya (mulai) 9jam perhari (karena seringnya harus extend alias lembur sukarela demi menyelesaikan sebuah pekerjaan yang belum selesai), susah sekali membagi waktu antara bekerja dan kuliah jarak jauh. Bayangkan saja, pulang kerja setelah capek-capek seharian menghadapi berbagai macam customer yang banyak maunya dan menghadapi berbagai macam staff dengan berbagai polah tingkahnya (yang seringnya tak masuk akal seperti satpam-satpam yang sering saya ceritakan, contohnya) membuat energy saya benar-benar terkuras dan membawa stress baru yang masih harus saya takhlukkan karena setelahnya saya harus mengikuti tutorial online dan mengerjakan tugas-tugas online yang telah terpending dan mengejar deadline demi mendapatkan nilai yang diinginkan.

Dan disela-sela mengerjakan tugas online yang kadang membosankan itulah kawan… seringnya saya malah ‘mengerjakan’ hal lain, misalnya update status di Facebook, buzz-buzz an dengan teman jauh saya lewat yahoo messenger, atau  curhat online di blog ini. And my life goes like that so simple… karena setelahnya gak terasa jam sudah menunjukkan jam 3 pagi, dan celakanya tugas yang sudah deadline belum juga selesai!
Alhasil, saya pun seringnya tidur kala pagi.. dan baru terbangun paling pagi sekitar jam 10. Tapi seringnya sih.. jam 11 atau 12.. yang kata orang sudah siang. Tapi bagi saya kok masih berasa pagi ya, karena mata ini masih sepeettt, benar-benar masih lengket tak mau terbuka. Hehehe… bangun siang kok bangga! Tuh, kan keterusan deh curhatnya!

But, kadang-kadang saya realize juga kok, kalau saya lebih konsen chatting dengan teman-teman dan curhat se’biadab’ mungkin sama mereka, ketimbang melanjutkan rutinitas saya menulis. And the rest of the reasons is my laziness. Ya, saya akui saya ini pemalas. Dan janji saya, mulai hari ini saya akan berusaha menghilangkan rasa malas saya dengan menjaga konsistensi saya dalam menulis. Cita-cita saya dari kecil memang menjadi penulis, walaupun hanya menuliskan pengalaman-pengalaman saya sehari-hari di blog.

Wish me luck as always guys!