Saturday, 30 July 2011

The Trouble of Room Inspection

Di hotel, room inspection adalah penting.

Jika anda adalah seorang frontliner seperti Guest Relation yang pekerjaannya adalah mengantar tamu ke kamar, berhati-hatilah! Jangan percaya kamar “A” statusnya sudah VC (vacant clean = sudah kosong dan sudah bersih) jika belum menginspeksi sendiri, karena bisa jadi system di computer yang setiap hari diublek ublek itu menipu. Lebih jauh, pihak housekeeping yang kadang-kadang lupa, salah mem-VC kan kamar. Kalau anda bekerja di hotel kecil yang jumlah kamarnya sedikit, mungkin not a big deal, alias masalah seperti ini bakalan jarang sekali terjadi. Tapi kalau hotel besar yang kamarnya hampir 800 kamar seperti hotel tempat saya training ini? Kejadian seperti itu bukanlah hal aneh. Malahan aneh kalau tidak pernah terjadi. Tak percaya?

Hari itu kebetulan saya kebagian mengantarkan dua orang tamu Jepang bermarga Suzuki seorang honeymooner (entah orang ini ada hubungannya dengan pemilik perusahaan Suzuki atau tidak), seperti biasa sayapun mulai menjelaskan beberapa fasilitas yang ada di hotel. Karena mereka bisa bahasa Inggris meskipun sedikit, saya tidak merasa kesulitan menjelaskan dan upsell beberapa paket makan yang tersedia.  Mereka sangat ramah dan gampang dikompori, baru juga sampai koridor kamar, mereka sudah terbujuk rayuan saya dan memesan paket candle light dinner di pantai dan  Spa massage, juga paket untuk Traditional Balinese food beserta Balinese Dance Live show. Wah wah wah… saya merasa menang saat itu karena point sudah di depan mata.

Saking senangnya, saya bahkan sudah menjelaskan beberapa fasilitas yang ada di kamar sebelum kami sampai di kamar. Sayapun sempat membocori bahwa di bath up mereka akan terset-up flower petal karena mereka adalah honeymooner. Tak terasa, tibalah kami bertiga di depan pintu. Setelah saya secara formalitas mengetuk pintu tiga kali dan memastikan kamar tersebut kosong, sayapun membuka pintu dan mempersilahkan mereka masuk. Dan OOOOOPPPPSSSS!!!

Kamar yang tadinya saya jelaskan fasilitasnya muluk- muluk, ternyata masih berantakan. Boro-boro ada flower petal di bath up-nya, yang ada hanya bathrobe (piyama mandi) tergeletak tak berdaya, dengan noda darah tepat persis di bagian atas menyilaukan mata. Duh…

Lagi, hari itu saya memang sial menghandle seorang Spanyol yang dari gelagatnya, tidak ramah. Mukanya itu lo.. aseeemmm banget. Si Spanyol keliatan semakin kucel mukanya, ketika kamar yang dia harapkan menghadap ke laut (ocean view room) tidak tersedia sesuai dengan yang telah dijanjikan oleh pihak reservasi. Setelah dibujuk dan ditawari ocean view room yang premium, si Spanyol akhirnya luluh. Jadilah saya mengantarkan tamu ini ke kamar yang dimaksud. Begitu masuk kamar, si Spanyol tidak happy dan menolak karena view ocean yang ditawarkan (masih juga) tidak sesuai dengan ekspektasinya. Jadilah, si Spanyol diupgrade ke kamar yang lebih bagus, yaitu junior suite yang view oceannya bagus, sebagai bentuk recovery hotel terhadap complaint dari tamu. Ya sudah, jadilah saya mengantarkan tamu yang air mukanya sudah kaya air kobokan itu ke kamar Junior suite. Saya sudah geregetan setengah mati tapi apa boleh buat, ya saya antar saja. Begitu saya buka pintu, ehhh… bertenggerlah seorang engineering di atas tangga, sedang membetulkan AC. Melihat saya dan tamu Spanyol itu masuk, si Engineering malah nyengir kuda. Tamu saya? Siap-siap mau nelen saya. Help!

4 comments:

Dianna said...

Trus akhirnya mbak jadi dimakan gak tuh sama orang Spanyol??
Wkwkwkwkwk...
tenyata yang kanibal gak cuman Sumanto!

Jack the ripper said...

wakakakak..
gak kebayang itu mukanya pasangan suzuki lihat bathrobe yang ada darahnya.
mungkin dia bertanya-tanya, ini gw belum bulan madu kok sudah ada bekasnya ya? hehehe

Franze said...

Jadi penasaran..
Anna dulu training di hotel mana????

verra said...

OMG... kok bisa sih kamar masih kotor dijual???
kesian banget deh yang escort.. kena sembur mulu!

Post a Comment