Wednesday, 27 July 2011

Pernikahan yang Gagal



Saya yang sedang sibuk-sibuknya bermimpi dikejar harimau malam itu, dikejutkan oleh dering telepon dari seorang teman. Terdengar isakan perlahan dari gadis kurus yang telah saya kenal selama 20 tahun itu. Namanya Ari, teman masa kecil saya di kampung.
“ An, aku gak kuat,” Suara Ari tersendat di ujung sana teriak isak.

Saya yang baru saja terbangun dan belum sempurna mengumpulkan nyawa, tentu sangat kaget. Ari tak pernah telepon malam-malam seperti ini, apalagi sambil menangis. Saya yang tak tahu mesti berbuat apa, mencoba menenangkan dan menanyainya perlahan-lahan.


Sambil tetap terisak, Ari bercerita, calon suaminya yang bekerja di Malaysia tertangkap polisi imigrasi karena ternyata dia seorang imigran gelap.


Ah, saya jadi tak habis fikir. Padahal belum genap sebulan sebelumnya, Ari mengabarkan kabar bahagia bahwa ia dan kekasihnya yang sekarang jadi calon suaminya itu, telah resmi lamaran. Bahkan kedua orang tuanya juga telah menyepakati hari perkawinan, yang rencananya jatuh di akhir Agustus tahun ini.


Dan sekarang kenyataannya suaminya dipenjara karena menjadi imigran gelap! Sungguh ini tidak lucu.


Ari yang terus terisak malam itu, tak bisa berbuat banyak selain menangis dan berdoa.


Dua hari setelahnya, ari mengabarkan berita lain yang tak kalah menyakitkan.

Ari tak bisa menghubungi calon suaminya, karena nomor Hpnya dialihkan ke nomor telepon lain yang pemiliknya adalah seorang wanita yang mengaku telah menjadi istri dari calon suaminya. Oh My God!

Ari tak bisa mempercayai hal ini begitu saja, namun hal ini tentu menyakitinya. Dia tak bisa konfirmasi langsung ke calon suaminya, sedangkan di sisi lain, wanita yang mengaku sebagai istri calon suaminya itu terus menerus mengirimkan sms ancaman padanya.


Suatu hari, Ari memberitahu saya nomor barunya. Katanya, nomornya yang lama sudah tidak ada, calon suaminya telah menelponnya dan mengatakan bahwa apa yang telah dikatakan perempuan itu tidak benar dan sebaiknya tidak usah dihiraukan. Ari lega karena calon suaminya setidaknya telah memberi  kabar, tapi juga sedih mengingat hukuman kurungan 4 bulan yang harus dijalani calon suaminya. Itu artinya, pernikahannya yang tinggal menunggu hari, positif batal atau diundur.


Setelah mendapatkan kesedihan bertubi-tubi itu, ternyata takdir tak berhenti mempermainkan Ari. Dan ini adalah puncak, sekaligus antiklimaks; ternyata calon suaminya itu selingkuh dan berbohong jika ia sedang di penjara. Perfect!


Saya sebagai seorang sahabat, tak tahu harus berbuat apa lagi untuk menghibur sahabat saya. Saya memang tak merasakan secara langsung kesedihannya, namun saya bisa membayangkan apa rasanya seandainya saya berada dalam posisinya. Kenyataan kadang memang jahat.


Renungan:

Saya fikir setelah proses 90% terlampaui, akan sangat mudah menundukkan 10% dan mencapai hasil. Tapi ternyata saya salah. 10% yang tersisa adalah yang terberat dan mungkin bebannya 2 kali lipat yang 90%.


Sejujurnya, saya sangat takut kehilangan. Namun, jauh lebih takut dibohongi.

No comments:

Post a Comment