Saturday, 30 July 2011

The Trouble of Room Inspection

Di hotel, room inspection adalah penting.

Jika anda adalah seorang frontliner seperti Guest Relation yang pekerjaannya adalah mengantar tamu ke kamar, berhati-hatilah! Jangan percaya kamar “A” statusnya sudah VC (vacant clean = sudah kosong dan sudah bersih) jika belum menginspeksi sendiri, karena bisa jadi system di computer yang setiap hari diublek ublek itu menipu. Lebih jauh, pihak housekeeping yang kadang-kadang lupa, salah mem-VC kan kamar. Kalau anda bekerja di hotel kecil yang jumlah kamarnya sedikit, mungkin not a big deal, alias masalah seperti ini bakalan jarang sekali terjadi. Tapi kalau hotel besar yang kamarnya hampir 800 kamar seperti hotel tempat saya training ini? Kejadian seperti itu bukanlah hal aneh. Malahan aneh kalau tidak pernah terjadi. Tak percaya?

Hari itu kebetulan saya kebagian mengantarkan dua orang tamu Jepang bermarga Suzuki seorang honeymooner (entah orang ini ada hubungannya dengan pemilik perusahaan Suzuki atau tidak), seperti biasa sayapun mulai menjelaskan beberapa fasilitas yang ada di hotel. Karena mereka bisa bahasa Inggris meskipun sedikit, saya tidak merasa kesulitan menjelaskan dan upsell beberapa paket makan yang tersedia.  Mereka sangat ramah dan gampang dikompori, baru juga sampai koridor kamar, mereka sudah terbujuk rayuan saya dan memesan paket candle light dinner di pantai dan  Spa massage, juga paket untuk Traditional Balinese food beserta Balinese Dance Live show. Wah wah wah… saya merasa menang saat itu karena point sudah di depan mata.

Saking senangnya, saya bahkan sudah menjelaskan beberapa fasilitas yang ada di kamar sebelum kami sampai di kamar. Sayapun sempat membocori bahwa di bath up mereka akan terset-up flower petal karena mereka adalah honeymooner. Tak terasa, tibalah kami bertiga di depan pintu. Setelah saya secara formalitas mengetuk pintu tiga kali dan memastikan kamar tersebut kosong, sayapun membuka pintu dan mempersilahkan mereka masuk. Dan OOOOOPPPPSSSS!!!

Kamar yang tadinya saya jelaskan fasilitasnya muluk- muluk, ternyata masih berantakan. Boro-boro ada flower petal di bath up-nya, yang ada hanya bathrobe (piyama mandi) tergeletak tak berdaya, dengan noda darah tepat persis di bagian atas menyilaukan mata. Duh…

Lagi, hari itu saya memang sial menghandle seorang Spanyol yang dari gelagatnya, tidak ramah. Mukanya itu lo.. aseeemmm banget. Si Spanyol keliatan semakin kucel mukanya, ketika kamar yang dia harapkan menghadap ke laut (ocean view room) tidak tersedia sesuai dengan yang telah dijanjikan oleh pihak reservasi. Setelah dibujuk dan ditawari ocean view room yang premium, si Spanyol akhirnya luluh. Jadilah saya mengantarkan tamu ini ke kamar yang dimaksud. Begitu masuk kamar, si Spanyol tidak happy dan menolak karena view ocean yang ditawarkan (masih juga) tidak sesuai dengan ekspektasinya. Jadilah, si Spanyol diupgrade ke kamar yang lebih bagus, yaitu junior suite yang view oceannya bagus, sebagai bentuk recovery hotel terhadap complaint dari tamu. Ya sudah, jadilah saya mengantarkan tamu yang air mukanya sudah kaya air kobokan itu ke kamar Junior suite. Saya sudah geregetan setengah mati tapi apa boleh buat, ya saya antar saja. Begitu saya buka pintu, ehhh… bertenggerlah seorang engineering di atas tangga, sedang membetulkan AC. Melihat saya dan tamu Spanyol itu masuk, si Engineering malah nyengir kuda. Tamu saya? Siap-siap mau nelen saya. Help!

Friday, 29 July 2011

Profesor oh Profesor!

Kebanyakan staff sudah hafal dengan beberapa tamu yang sudah jadi member atau seorang guest repeater, apalagi jika si tamu akrab dengan staff, kadang-kadang si tamu akan diperlakukan lebih personal. Seperti kali ini. Ada seorang tamu bapak-bapak berumur sekitar 60-an, namanya sih saya tak tahu, tapi kebanyakan staff disini memanggilnya pak professor. Si pak profesor ini terburu-buru mengambil mobilnya. Kebetulan mobil pak prof ini di-valeykan di halaman depan hotel. Si pak prof dengan santai menyerahkan docket valley kepada seorang staff, lalu meminta kunci mobilnya. Saya sempat melihat petugas valley sudah hendak mengambilkan mobilnya, tapi si prof malah meminta kunci dan mengambil mobilnya sendiri.

Well, si prof dengan sedikit tergesa menghampiri mobilnya yang ternyata sebuah mobil Pajero sport warna putih berplat nomor DK. Di sebelah kiri mobil professor, bertengger sebuah Mercedez S500 yang masih kinyis-kinyis menyilaukan mata, sedangkan di sebelah kanannya terparkir sebuah Alphard Vellfire hitam yang membuat ngiler siapapun yang melihat.

Tanpa ragu, pak prof segera tancap gas, ssshhhuuuuttt…! Meluncur ke depan, lalu mengambil haluan hendak berbelok ke kanan, mundur sedikit dan… Braaaakkk! Pak professor menabrak Mercy! Si Mercy malang yang tadinya anggun menantang, kini bagian depannya penyok mencolok mata. Aduuhh…

Automatically, petugas valley pun sibuk berlarian ke tempat kejadian.  Saya lihat Concierge manager dan beberapa supervisor juga datang. Accident report segera dibuat. Dari kesepakatan yang telah disepakati, pihak hotel tidak bertanggung jawab atas kecelakaan ini, namun pak prof akan menyelesaikan sendiri permasalahan ini dengan pemilik Mercy. Malahan, pak prof sempat dengan sombongnya mengatakan,
“Kalau pemiliknya minta ganti, saya akan belikan mobil baru!” dan setelah itu pak prof buru-buru ngacir entah kemana.

8 jam kemudian…

Pemilik Mercy yang ternyata seorang mas mas ganteng, mengklaim mobilnya. Petugas valley yang saat itu sedang bertugas, segera memanggil  SPV untuk menjelaskan kronologi kejadian yang menimpa mobilnya. 

Seperti telah diduga, si mas-mas ngamuk-ngamuk.
"Apa? Kok bisa mobil saya ditabrak?" Si mas-mas ini merah mukanya.
" Jadi kejadiannya begi…"
" Kamu tahu itu mobil baru sekali ini saya kendarai tau! Lihat itu plat nomornya! Itu baru seminggu keluar STNK-nya. Belum juga sempat saya bawa kemana-mana. Sudah penyok!
"Iya Pak, yang nabrak juga akan bertanggung ja…"
" Huh, mana mungkin dia mau ganti rugi kerusakan mobil saya. Ini mobil mahal! Mobil import! Mobil ini sudah penyok! Kalau mau memperbaiki kamu tahu berapa juta, hah? Gaji kamu setahunpun gak akan cukup!"
Duh… ini orang memang sudah keterlaluan. Si SPV saya lihat sudah mulai merah mukanya.

Ketika SPV hendak menjelaskan, eh kebetulan pak prof datang. Jadilah SPV saya langsung menggiring pemilik mobil untuk bertemu dengan pak prof. Tanpa saya duga, si mas mas ini attitude-nya berubah 180 derajat ketika bertemu dengan pak prof. Jadi maniiiisss…  dan sopan. Pake Tanya kabar segala.

Pak prof to the point langsung tanya ke mas-mas itu,
"Jadi yang saya tabrak tadi mobil kamu?"
"Iya, Pak prof. Tapi tidak apa-apa kok, penyok sedikit saja!"
Busseeeettt… penyok dikit katanya! Ehm - ehm! Lupa ya mas, ini kan mobil mahaaalll…?

"Ok, nanti saya secepatnya uruskan pembelian mobil baru." Pak prof  menyatakan pertanggungjawabannya.
Eh.. si mas-mas sok jaim nolak.
"Gak usah prof.. bener kok ini gak apa-apa. Hehehe…"

Si mas-mas munafik dan pak professor akhirnya jabatan tangan. Lalu pak prof berlalu.

Si mas-mas menghampiri SPV saya,
"Tadi kenapa gak bilang-bilang ke saya kalau yang nabrak mobil saya itu pak Prof??? Beliau itu professor saya, kalau bisa saya malah belikan beliau mobil, bukannya saya yang dibelikan!"
Aduuhh…

Kalau saya jadi SPV saya yang super sabar itu, sudah habis saya maki-maki deh mas-mas itu kalau (saja dia bukan tamu di hotel saya). Hehehe...

Wednesday, 27 July 2011

Gara-gara Naruto


Saya (entah berapa kalinya) mengatakan kalau saya paling benci harus incharge di lobby apalagi harus bersama satpam - maksud saya sekuriti (bodo amat!) karena seringnya saya jadi ilfil dan hilang kesabaran karena harus eyel-eyelan ngobrolin hal gak mutu yang akhirnya bisa membuat saya dongkol dan uring-uringan seharian. Tapi ibarat pepatah jawa yang bilang “digething nyanding”, alias apa yang kita benci itu malahan semakin mendekat, saya kok ya sering sekali harus kerja bareng orang-orang yang saya tidak suka. Herannya, hari ini dengan mas A lain waktu dengan mas B, kok ya mereka hampir sama menyebalkannya! Ibarat mati satu tumbuh seribu, begitulah saya jadi bulan-bulanan mereka setiap kali harus kerja bareng mereka. Kalau tidak pandai-pandai mengelak, incharge bersama mereka sudah selayaknya  tes mental buat saya. Huft…!

Seperti kejadian hari ini. Bukan, sama sekali bukan masalah tip atau hari jadi Amerika. Hari ini masalahnya Naruto. Yep, kartun Jepang yang digandrungi banyak penggemar di seantero dunia itu, jadi topik utama mas satpam dan saya, sekaligus menjadi bahan obrolan yang bikin saya jengkel, ilfil, males, sekaligus konyol. Si mas-mas satpam yang baru saja incharge ini kok ya langsung to the point mereseki saya.
“Mbak suka Naruto gak?” Dia, selalu dia duluan yang membuka pembicaraan.
“ Memangnya kenapa?” Jawab saya yang sewot. Si satpam nyengir kuda.
“ Yaaah.. hari gini gak tau Naruto. Mbak ketinggalan jaman sekali. Palingan mbak taunya Doraemon atau Sailormoon. Itu sih udah jadul mbak…” tuh kan, bikin gara-gara lagi.
“ Siapa yang bilang gak tau?”, saya membela diri. “ Tadi saya kan Cuma nanya memangnya kenapa?”
“ Alah, udah deh mbak… biasanya cewek sukanya Chibi Chibi apa tuh…” si Satpam garuk-garuk kepala.
“ Chibi Maruko Chan maksudnya?” Si satpam nyengir kaya anak kecil gak punya dosa.

Hening.

“ Tahu tidak mbak, anggota akatsuki yang namanya pein itu loh, kuat banget. Tak terkalahkan!” si satpam berapi-api.
“ Pein akhirnya mati kena rasengan Naruto tau!” Si satpam melotot gak percaya. Trus ngeyel-ngeyel, mengatai saya sok tau, sok ngarang-ngarang cerita, dan sebagainya. Makin panas deh kuping saya mendengarnya.
“ Mas, itu episode Naruto bunuh pein sih saya sudah tahu jauh sebelum saya kerja di sini. Jangankan episode pein, yang kakaknya naruto si Uzumaki Arashi keluar, saya sudah tahu!” saya pun tak tanggung-tanggung nyombong, padahal si uzumaki arashi keluar itu masih lama tayangnya. Saya tahunya dari browsing-browsing iseng ke milis-milis penggemar Naruto untuk mendapatkan informasi terakhir mengenai kelanjutan kisah Naruto. Hehehehe…


*)Pein, Idola saya

Eh, tapi bualan saya manjur loh. Si Satpam terbengong-bengong trus tanya,
“Lah mbak tahunya dari mana? Aku saja yang rajin baca komik pinjeman nyampek kemunculan pein itu sudah yang paling terbaru.”
Sampai disini saya ngakak habis-habisan, dan tentunya juga anda yang ngakunya penggemar Naruto. Ya kan?
“Ya elah mas, hari gini kan banyak situs-situs penyedia film-film terbaru yang bisa di download gratisan! Saya sih punya ratusan film Naruto yang saya simpan di hardisk setelah saya download!”


Tahukah anda, yang sebenarnya rajin download film naruto itu Harajuku dan Aziz, saya sih tinggal copy dari laptop mereka. Saya pakai internet yang berkuota, jadi kan sayang kalau download film dengan kapasitas besar trus kuota saya habis dan speed internet saya jadi anjlok. Dan aslinya, saya suka Naruto gara-gara penasaran melihat azis dan Harajuku yang selalu antusias dan tidak bisa diganggu kalau sedang nonton berdua. Belum lagi kalau sedang debat mengenai tokoh favorit mereka, Pein dan Sasuke - meskipun mereka ini musuhan - tapi kok ya kelihatannya tak ada habisnya. Iseng-iseng suatu kali saya ikutan nonton dan langsung suka. Jadi begitulah, meski tak tahu sejarah dari awalnya, tapi sejak saat itu saya tak pernah absen menantikan tiap edisi barunya. It’s my secret.




*)-Nyombong mode on-folder Film Naruto yang tersimpan di hardisk saya


Dan s
i mas satpam makin melongo.

“ Situs? Situs apaan mbak?” tanpa curiga, mulailah saya nyerocos kasih tahu beberapa situs yang sering saya kunjungi untuk download. Tapi kok ya si mas satpam ini kelihatan tambah bingung.

“ Itu gimana caranya mbak?”

“Ya gampang mas tinggal download saja.”

“Caranya download itu gimana?” Nah loh? Jadinya saya yang gantian melongo.

“Dulu saya ini mau diajarin internet loh mbak sama teman. Biaya kursusnya Cuma 100ribu per bulan. Tapi saya tak bisa karena sibuk tak ada waktu.” 
Nah, sampai disini saya tak tahu apa harus tertawa atau menangis kasihan. Minta diajarin sama mas-mas penjaga warnet aja mas... kalau Cuma ngasih tahu caranya googling sih, gratis atuh!
“ Oh ya, Facebooknya mbak apa? Nanti biar q add.” Katanya lagi. Saya bengong. Kaget.

“Oh, punya Facebook ya?” tanya saya. Lah heran. Internet gak tahu itu makanan apaan kok, facebook tahu.

 “ Yah, ada lah mbak. Hari gini gak punya facebook!” dia sewot berat. Sampe monyong 5 centi deh itu bibirnya.

“ Kasihan banget mbak ini, Hpnya masih jadul ya, gak ada facebooknya?” dia mencoba mencibir saya. 

Usut diusut, ternyata HP dia yang merk-merk china yang punya shortcut facebook pemirsa! Jadi dikiranya dia, Facebook itu aplikasi Java bawaan HP! Ya oloh mas... tapi saya jadi malas kasih tahu, karena kalau saya bilang facebook itu situs jejaring sosial yang ada di internet, dia pasti ngamuk-ngamuk dan ngeyel bilang kalau facebook itu aplikasi Java di hape yang dijalankan dengan GPRS (padahal dia juga gak tahu GPRS itu apaan) trus nyedot pulsa setelah pemakaian sekian menit. Duh!


“Oh ya mbak, q mau dong nonton naruto-nya. Katanya punya banyak di laptop.”

“Boleh. Kapan?”

“Mmmm... kalau pulang kerja gimana mbak? Di loading dock aja. Tapi... di loading dock kan gak ada internet kaya di lobby ya? Mana bisa nonton?” 
You know pemirsa, yang dimaksud dia itu, di loading dock kan tidak ada wifi-nya, jadi dia takut gak bisa nonton karena dikiranya dia nonton film yang sudah saya download itu masih harus online. ON-LI-NE!

“ Bisa mas, tapi aku Cuma bisa kasih lihat 1 film aja ya? 1 film durasinya udah 25 menitan. Ntar aku kemaleman pulangnya.”

“ Tapi aku mau nonton semuanya. Dikopi deh dikopi.”

“ Mmm... boleh deh. Kalau gitu siapkan flash disk aja. Nanti aku kopikan yang banyak. Ntar kamu bisa nonton di warnet atau kalo punya DVD yang ada USB port-nya, bisa juga dicolokin di situ.” Si mas Satpam mengangguk-angguk.

“ Tapi mbak.. flash disk itu apaan ya?”  Gubrak!

.............................

Sekian pemirsa. Saya tak tahu lagi bagaimana cara menjelaskannya. Saya akui saya ini gaptek, ndeso dan unsophisticated. But at least saya sudah pernah kenal apa itu Flash disk.

Malang, My Favourite Place to visit


Disaat saya selalu merasa malas dan mengantuk dalam bekerja, setiap kali saya merasa waktu lima menit berjalan begitu lambat seperti seharian, dan di saat saya merasa bosan luar biasa, saat itulah saya merasa perlu jalan-jalan.

Saya sangat bersyukur karena hotel dimana saya bekerja memberikan libur 2 hari per minggu (belum termasuk annual leave dan hari libur nasional), yang memberikan saya waktu cukup banyak untuk bisa mengisi waktu libur saya dengan jalan-jalan dan refreshing. Jadilah, waktu libur bagi saya adalah penyelamat jiwa dan raga saya dari rutinitas dan stress di tempat kerja. Lebih beruntung lagi, section department saya memiliki seorang SPV leader yang sangat murah hati memberikan kelonggaran untuk kami-staffnya me-request kapan kami akan mengambil cuti/libur, meskipun tak ada jaminan 100% dikabulkan, setidaknya kami bisa berharap dengan melihat situasi dan kondisi hotel saat itu—apakah sedang weekend dimana adalah hari-hari teramai selama seminggu di hotel, apakah sedang musim liburan sekolah, atau sedang ada hari libur nasional. Dan itulah yang menyebalkan—karena bekerja di hotel artinya tidak bisa libur di saat orang lain libur—menyedihkan memang.

Dan bicara mengenai liburan, saya merasa sangat perlu cerita tentang tujuan liburan favorit saya—Malang.

Jujur saja, kota Malang menjadi tujuan favorit saya dalam berlibur karena 3 hal; berhawa dingin, dekat dengan Surabaya, dan makanannya melimpah dan murah. Selain alasan tambahan karena nenek saya tinggal di sana, atau Harajuku yang kebetulan juga tinggal disana karena harus menuntut ilmu di UNIBRAW, bagi saya Malang adalah kota paling ideal yang tak pernah saya bosan mengunjunginya.

Bekerja selama 5 hari seminngu dan stress berat di Surabaya, bisa disembuhkan selama 2 hari di Malang. Dan ada banyak sekali cara untuk menikmatinya. Kalau saya, palingan menyiapkan budget paling banyak Rp.50,000 sekali jalan untuk berwisata kuliner di seluruh penjuru kota Malang. Favorit saya adalah daerah sekitar Batu dan Songgoriti dan daerah sekitar kampus—jalan Gajayana dan sekitarnya. Hanya dengan modal Rp. 50,000 tersebut, saya sudah sangat puas mencicipi berbagai macam makanan yang sangat jarang saya temukan di Surabaya, seperti rendang Malangan, penyetan jamur dan berbagai masakan rumahan yang banyak saya temui di warung-warung tanpa nama di gang- gang kecil yang umplek-umplekan dengan kosan mahasiswa. Harganya seragam, berkisar antara 4-5ribuanper porsi. Kalau mau lebih murah dan enak, saya biasanya makan di gang Kerto Pamuji (masih di sekitar Jalan Gajayana) dan memesan penyetan jamur, indomie goreng, teh hangat, dan pisang hijau dengan membayar hanya 6ribu! Dan biasanya setelahnya saya sudah tak kuat makan-makan lagi karena sudah terlalu kekenyangan. Lucunya, di Malang juga dengan mudah ditemukan berbagai masakan khas dari seluruh Nusantara selain masakan padang (yang memang dengan sangat gampang ditemukan dimana-mana) tentunya, contohnya menu es pisang ijo dan cotto Makassar yang memang asli dari Makassar (dan rasanya original lho, karena juru masaknya dengar-dengar adalah seorang daeng dari daerah asalnya), karedok, mie kocok, dan asinan yang konon dari Jawa Barat, gudeg dari Jogja, hingga masakan Bali seperti lawar hingga babi guling!

Kalau sedang tidak ingin makan makanan yang berat-berat, saya seringnya jajan jajanan yang banyak dijual orang di pinggir jalan dengan pilihan menu yang sangat bervariasi, mulai dari pentol dan cilok (dengan saus kacang, kecap, saos tomat, dan sambal yang selalu bikin saya ketagihan), empek-empek (aslinya memang dari Palembang tapi dengan sangat mudah bisa ditemukan di sini dengan harga antara Rp. 1.000 – Rp. 1.250 per buahnya), roti goreng berbagai bentuk, aneka gorengan seperti tahu petis, pisang molen, onde-onde, hingga pohong keju. Kalau beruntung bisa juga bertemu dengan penjual kerak telor, rangin, dan kue cucur. Kangen jajanan tradisional yang benar-benar kuno seperti ketan bubuk kedelai? (bukan ketan durian loh..) silahkan jalan- jalan di sekitar Suhat (Soekarno-Hatta) di atas jam 7malam! Atau kangen dengan cenil, lupis dan kicak? Roti kukus? Pisang kipas? Atau leker? Atau.. pernah dengar Roti canai? Roti maryam? Bakpau telo? Siapkan motor dengan bensin yang cukup dan bersiaplah jalan-jalan di seantero jalan Gajayana mulai jam 10 pagi hinggan jam 9 malam dan anda akan mudah menemukan jajanan yang anda inginkan!

Mungkin karena berada di daerah yang lebih banyak mahasiswa ketimbang penduduk lokalnya, warung-warung dan stan penjual makanan hingga gerobak pun disulap sedemikian menarik dengan gambar-gambar unik dan cat warna warni, bahkan kadang-kadang dengan nama dan logo yang unik untuk menarik pembeli (yang rata-rata mahasiswa). Seperti Yoguchi (ini sih franchise lokal jualan yogurt rasa buah), es kutub (saya juga bingung kenapa dinamakan es kutub padahal fisiknya mirip dengan es oyen), nasi goreng arang (promosinya sih tanpa minyak dan rendah kolesterol), atau bakso hidayah (saya berfikir setelah mengkonsumsi bakso ini orang akan mendapatkan hidayah). Yang lucu, ada sebuah kedai makan untuk mahasiswa yang letaknya di depan kampus Univ Muhammadiyah Malang, namanya kedai Assalamualaikum. Sorenya, saya kebetulan jalan-jalan di jalan Gajayana dan mampir di kedai Wa’alaikum salam. Saya yang tertawa terpingkal-pingkal saat itu berfikir, apa pemilik kedua kedai makan ini dulunya kenalan lalu bersaudara sehingga nama kedainya menjadi seperti itu. Namun, sampai sekarang saya belum menemukan jawabannya.

Malam hari, bukan berarti tak bisa wisata kulineran lagi. Jujur saya bosan karena menu makan malam hampir semuanya seragam; kalau bukan nasi goreng dan sejenisnya, ya.. aneka penyetan ayam, bebek, seafood dan sejenisnya. Sayapun cari alternative lain. Saya paling betah nongkrong berjam-jam di café-café pinggir jalan yang hanya buka malam hari di sekitar jalan Dinoyo atau Suhat. Meskipun kopi yang disediakan hanya kopi sachet pasaran semacam Nescafe atau Indocafe, namun snack yang ditawarkan cukup beragam, enak dan penampilannya menarik. Sebut saja roti bakar, pisang bakar keju atau cokelat, atau  roti panggang keju. Ditata di piring plastic warna putih dengan hiasan keju, strawberry segar dan susu kental manis coklat, rasanya sudah cantik meskipun cutleriesnya (berupa dessert fork) masih kaki lima banget. Dengan harga 6 ribu per porsi, saya bisa menikmati pisang bakar keju lezat sambil menggoda mas-mas mahasiswa (yang tentunya brondong abis) yang sedang belajar jadi entrepreneur ini. Hehehe… meskipun terkesan ecek-ecek, bagi saya pribadi menghabiskan waktu di café pinggir jalan sambil ngopi- sambil makan pisang bakar- sambil main poker dengan teman-teman-sambil menggoda mas-mas brondong mahasiswa korban study entrepreneurship ini jauh lebih menyenangkan dari pada ke cafe mahal-minum-dance-mabuk dan uang habis (apalagi, café semacam ini sulit ditemukan di Surabaya. Palingan di jembatan Merr—itupun tidak sebagus dan selengkap yang di Malang). Yang lebih asyik, meskipun kaki lima dan tempatnya pun numpang di teras-teras toko yang sudah tutup, café berondong ini dilengkapi dengan free wifi dan colokan listrik, jadi bisa internetan sambil ngopi sampai pagi, juga dilengkapi dengan TV layar lebar –yang biasanya hanya dilirik jika ada pertandingan bola. Saya pernah bela-belain nongkrong di café ini jam 5 sore padahal tiger cup final Indonesia vs Malaysia baru dimulai jam 8! Dan memang seru!

Kalau mulai kepanasan di Malang, biasanya saya langsung tancap gas ke Batu, bukit panorama dan Songgoriti. Selain hanya iseng jalan-jalan naik motor sambil menikmati pemandangannya yang indah, wisata kuliner yang wajib dan tak mungkin saya lewatkan adalah bersantai di wisata payung dan menikmati jagung bakar dan lagi-lagi; kopi sachetan. Menu andalannya sebenarnya adalah sate kelinci dan degan bakar. Tapi terus terang saya belum pernah mencoba keduanya. Meskipun nyaman, namun harga makanan disini 2 kali lipat harga makanan di Malang. Selain itu, banyaknya pengamen di lokasi ini seringnya membuat saya gerah. Baru juga saya menyeruput kopi susu yang saya pesan, sudah ada 3 pengamen berbeda yang mendatangi saya. Pengamen disini juga aneh, jadi kalau dalam 1 kedai ada 8 meja dan semuanya terisi, maka dia akan menyanyi berurutan di 8 kursi. Yang nyebelin, itu pengamen gak mau pergi kalo belum dikasih duit. Ampun deh! Pas saya keluar dari kedai, saya hitung-hitung saya menghabiskan 8ribu untuk 8 orang pengamen, padahal dengan uang segitu kan, saya bisa makan minum kenyang dan enak di gajayana, hiks! Triknya, kalau mau ke sana lagi, biasanya saya bawa koin pecahan seratus rupiah sebanyak- banyaknya. Total 10 pengamen yang datang, saya kasih semuanya 100 rupiah per orang. Hehehehe… Sekali-kali pelit boleh dong…

Kegiatan lain yang rutin saya lakukan selain wisata kulineran adalah ngenet sampai laptop saya teriak-teriak kepanasan. Tempat favorit saya adalah kampus Unibraw. Lokasinya yang nyaman dan aman, serta kaya akan signal hotspot (dengan speed yang bisa diandalkan) hampir di semua area, menjadikan saya betah ngenet berjam-jam. Dulu sih, tanpa ada site pengaman. Tapi sekarang, untuk menggunakan wifi-nya sudah di proteksi dengan login menggunakan NIm (nomor Id mahasiswa). Saya sih gampang, biasanya saya tinggal pakai nomor ID harajuku, sedangkan Harajuku nodong punya temannya. Saya akui saya memang cheapshit. Hehehe…

Kalau kegiatan kulineran dan ngenet saya sudah bosan, sayapun “lari” ke hobby lama saya membaca buku. Biasanya sih, ke Gramedia atau Toko Buku Togamas. kalau sedang kaya raya (baca: abis gajian) saya membeli beberapa buku dari author favorit saya yang saya inginkan sejak lama. Kalau uang lagi cekak, saya biasanya kabur seharian ke perpustakaan umum di pusat kota Malang dan seharian membaca buku incaran yang harganya mahal tak terbeli oleh saya. Karena KTP saya luar kota, saya tak diberikan fasilitas pinjam, yang artinya mau tak mau saya harus baca buku di tempat. Meskipun ngoyo dan kadang mata saya sampai sakit karena kelamaan membaca, saya puas dan tak pernah bosan. Terlebih situasi perpustakaan yang bersih dan staff yang ramah, membuat saya makin betah. Tak heran jika perpustakaan favorit saya ini dinobatkan sebagai perpustakaan terbaik di Indonesia tahun 2010!

Musim hujan, disaat saya paling malas keluar rumah, biasanya saya keluar sebentar untuk menyewa DVD di Supernova dan membeli cemilan di alfamart, lalu nonton sambil selimutan kedinginan sambil ngemil. Nikmat! Yang asyik, harga sewanya buat saya sangat terjangkau. Hanya Rp. 10.000/ 5 film untuk 5 hari! Jauh lebih murah jika dibandingkan dengan di Surabaya yang harganya Rp. 5.000/ film. Dengan budget Rp. 10.000, sayapun puas mengublek-ublek seluruh film yang ada dan menghabiskan waktu seharian nonton 5 film. Puas!

Kalau malas sekali dan ingin istirahat total, saya kira ke Malang juga pilihan tepat. Saya bisa hibernasi seharian tanpa AC atau kipas angin, karena udaranya yang dingin mengusir gerah membuat orang mudah  mengantuk. Kalaupun tidak ingin tidur, hanya rebahan sambil mendengarkan music atau menonton TV seharian.
Ah, sewaktu menulis ini, saya jadi ingin sekali ke Malang.


The Barbarian English

Seperti hari hari sebelumnya, saya selalu sial ketiban incharge bersama sekuriti lagi. Di lobby lagi. Meskipun dengan orang yang berbeda (kali ini mas-mas tinggi besar yang sepertinya ganteng kalau dilihat dari belakang tapi oh NO! kalau dilihat dari depan—saya tak perlu sabutkan namanya), tetap saja ada hal-hal aneh dan konyol yang mewarnai hari-hari saya. Yah, seperti hari ini.
Mas-mas yang ini memang agak lain, agak kalem dan polos, meskipun sifat “ember”-nya hampir sama dengan satpam (eh, sekuriti) kebanyakan. Bedanya, si mas kalem ini ternyata rasa ingin tahunya lumayan besar, ya...want to know aja gitu orangnya.

So, siang tadi ada seorang bule ostrali yang badannya segede kulkas dua pintu – lagi berdiri di lobby dekat si sekuriti berjaga—si bule lagi nelpon temennya dan suaranya itu looo… kencengnya ampun deh mak—berasa di dunia ini cuma dia aja yang bisa ngomong.
“… I‘ve been waiting for you quite longggg….” Buseeet, long-nya emang panjang banget. Sumpah! Intinya si bule udah gak sabar kelamaan nunggu temennya.
“… what the hell are you doing, Huh?” si Bule makin gak sabaran.
Dan si mas-mas sekuriti timbul deh rasa penasaran dan ingin tahunya.
“Mbak, yang terakhir bule tadi ngomong itu, maksudnya apa?” Dia tanya ke saya.
“ Lagi ngapain lu? Gitu kali kalo diterjemahkan ke bahasanya orang Jakarta.” Saya jawab sekenanya.
“Oh, Ok. Ok.” Si mas sekuriti mengangguk-angguk sok ngerti.

And finally temennya bule kulkas dua pintu itu datang. Segede kulkas tiga pintu. Alias ne orang gede banget. Dan suaranya itu, gak kalah menggelegar.
“I’m so sorry, John. There was a fucking traffic jam in front of the plaza.” Si kulkas tiga pintu nyerocos.
Dan si mas sekuriti lagi-lagi nanya sama saya,
“Fucking traffic jam itu apa mbak?” Tanyanya lagi.
“Macet banget.” Saya jawab tanpa tendensi apa-apa. Mas-mas sekuriti lalu mencatat sesuatu di kertas kecil dari sakunya.

Dua bule segede gaban tersebut berlalu sebentar merokok di pojok ruangan, lalu masuk melalui metal detector body check securiti. Pertama, si bule kulkas dua pintu yang lewat, sambil membawa koper milik bule kulkas tiga pintu. Tapi setelah melewati body check, si kulkas dua pintu sepertinya lupa akan sesuatu; meraba-raba saku celananya, saku baju, lalu ke koper yang sedang dibawanya.
“ What the hell are you doing, Sir? May I help you?” Si mas- mas sekuriti yang Oh No! Dengan polosnya menawarkan bantuan dengan bahasa inggris ala barbarian yang tak sengaja dia dengar tadi.
Si Bule melongo tak percaya. Saya menutup muka. Dalam hati hanya bisa berdoa... ampunilah dosa-dosa mas sekuriti polos ini ya Tuhan...
Belum juga si kulkas dua pintu menjawab, si kulkas tiga pintu menyusul melewati pintu metal detector dan karena ada bunyi “beep”—kemungkinan si bule mengantongi handphone-nya—mas-mas sekuriti yang sama men-scan si bule dengan garret. Celakanya, si mas-mas sekuriti ini malah sotoy basa basi sama si bule kulkas tiga pintu,
“Where’s the fucking traffic jam, Sir?” OMG! OMG!
Seandainya ada Dedy corbuzier di TKP saat itu, rasanya mau lah saya dijadikan relawan untuk disulap jadi metal detector saja!

Pernikahan yang Gagal



Saya yang sedang sibuk-sibuknya bermimpi dikejar harimau malam itu, dikejutkan oleh dering telepon dari seorang teman. Terdengar isakan perlahan dari gadis kurus yang telah saya kenal selama 20 tahun itu. Namanya Ari, teman masa kecil saya di kampung.
“ An, aku gak kuat,” Suara Ari tersendat di ujung sana teriak isak.

Saya yang baru saja terbangun dan belum sempurna mengumpulkan nyawa, tentu sangat kaget. Ari tak pernah telepon malam-malam seperti ini, apalagi sambil menangis. Saya yang tak tahu mesti berbuat apa, mencoba menenangkan dan menanyainya perlahan-lahan.


Sambil tetap terisak, Ari bercerita, calon suaminya yang bekerja di Malaysia tertangkap polisi imigrasi karena ternyata dia seorang imigran gelap.


Ah, saya jadi tak habis fikir. Padahal belum genap sebulan sebelumnya, Ari mengabarkan kabar bahagia bahwa ia dan kekasihnya yang sekarang jadi calon suaminya itu, telah resmi lamaran. Bahkan kedua orang tuanya juga telah menyepakati hari perkawinan, yang rencananya jatuh di akhir Agustus tahun ini.


Dan sekarang kenyataannya suaminya dipenjara karena menjadi imigran gelap! Sungguh ini tidak lucu.


Ari yang terus terisak malam itu, tak bisa berbuat banyak selain menangis dan berdoa.


Dua hari setelahnya, ari mengabarkan berita lain yang tak kalah menyakitkan.

Ari tak bisa menghubungi calon suaminya, karena nomor Hpnya dialihkan ke nomor telepon lain yang pemiliknya adalah seorang wanita yang mengaku telah menjadi istri dari calon suaminya. Oh My God!

Ari tak bisa mempercayai hal ini begitu saja, namun hal ini tentu menyakitinya. Dia tak bisa konfirmasi langsung ke calon suaminya, sedangkan di sisi lain, wanita yang mengaku sebagai istri calon suaminya itu terus menerus mengirimkan sms ancaman padanya.


Suatu hari, Ari memberitahu saya nomor barunya. Katanya, nomornya yang lama sudah tidak ada, calon suaminya telah menelponnya dan mengatakan bahwa apa yang telah dikatakan perempuan itu tidak benar dan sebaiknya tidak usah dihiraukan. Ari lega karena calon suaminya setidaknya telah memberi  kabar, tapi juga sedih mengingat hukuman kurungan 4 bulan yang harus dijalani calon suaminya. Itu artinya, pernikahannya yang tinggal menunggu hari, positif batal atau diundur.


Setelah mendapatkan kesedihan bertubi-tubi itu, ternyata takdir tak berhenti mempermainkan Ari. Dan ini adalah puncak, sekaligus antiklimaks; ternyata calon suaminya itu selingkuh dan berbohong jika ia sedang di penjara. Perfect!


Saya sebagai seorang sahabat, tak tahu harus berbuat apa lagi untuk menghibur sahabat saya. Saya memang tak merasakan secara langsung kesedihannya, namun saya bisa membayangkan apa rasanya seandainya saya berada dalam posisinya. Kenyataan kadang memang jahat.


Renungan:

Saya fikir setelah proses 90% terlampaui, akan sangat mudah menundukkan 10% dan mencapai hasil. Tapi ternyata saya salah. 10% yang tersisa adalah yang terberat dan mungkin bebannya 2 kali lipat yang 90%.


Sejujurnya, saya sangat takut kehilangan. Namun, jauh lebih takut dibohongi.

The 4th of July


Mumpung masih fresh dalam ingatan dan setelah menggabungkan beberapa tulisan sporadis saya, post kali ini saya ingin share mengenai 4th of July moment yang sukses digelar tanggal 4 Juli lalu di hotel tempat saya bekerja.

Jadi begitulah ceritanya, tanggal 4 lalu, US embassy yang ada di Surabaya merayakan hari kemerdekaan tersebut di hotel, and you know that, Amerika sudah sangat terkenal sebagai ngara yang paling rese soal keamanan. And it means that sekuriti di hotel bakalan jauh lebih resek dari sebelumnya. Jauh-jauh hari sebelumnya, semua staff hotel wajib mengumpulkan fotokopi ktp yang sampai sekarang saya masih kurang jelas tujuan utamanya untuk apa. Lalu, diadakanlah beberapa meeting khusus untuk event ini (yang juga jauh-jauh hari sebelumnya). Bahkan sudah diwanti-wanti jika khusus untuk tanggal ini, semua staff harus full team, alias tidak ada satupun yang diliburkan (maksud loh?).

Dan jadilah.. keresean demi keresean satu persatu mulai saya alami.

Pertama, saat hendak masuk ke loading dock yang harus melalui pintu belakang shopping mall yang lokasinya empet-empetan dengan hotel, banyak polisi yang berjaga-jaga memblok jalan sehingga mau masukpun susah karena jalan yang biasanya dilalui pengguna jalan menuju shopping mall ini cukup ramai dan beberapa ruas jalan di blok. Halah!

Sampai di loading dock, beberapa polisi juga terlihat berjaga-jaga di area lot parkir paling dekat hingga ke ruang hand key para karyawan. Yang bikin mangkel, kok ya polisinya tidak ada satupun yang ganteng (hehehe..). setelah hand key, mau masukpun tas dan pakaian masih diperiksa sekuriti padahal biasanya saya cuek nyelonong saja. Otomatis, waktu saya yang sudah mepet mau telat jadi molor dan benar-benar mendekati telat. Masuk ke loker, kok ya masih bertemu dengan polisi yang sibuk jalan di koridor. Ampun deh ampun....!

Saat incharge, rupanya hotel sudah berasa jadi markas kedua polisi! Saya lihat mulai dari main gate, parkiran, seantero lobby, ballroom untuk acara inti, semua cafe dan restaurant, pool, dan koridor semua dijaga ketat oleh polisi. Bahkan khusus lantai 27 tempat para diplomat dan ambassador dijaga ketat oleh beberapa polisi dan bodyguard, dan untuk bisa masuk maka siapapun itu (termasuk tamu hotel biasa) harus menunjukkan Id atau tanda pengenal ke petugas. Ya oloh...!

Selain polisi, saya lihat juga banyak sekali bersliweran sekuriti dari US embassy sendiri yang seragamnya juga coklat (tapi warnanya lebih muda) seperti seragam polisi dan beberapa atributnya yang kurang lebih hampir sama. Bisa dibayangkan, aktivitas hotel yang biasanya ramai, hari itu jauh lebih ramai saking banyaknya staff yang full team dan para petugas luar (sekuriti dan polisi) yang berjaga-jaga dan bersliweran kemana-mana. Sekuriti hotel sendiri, saya lihat adem ayem dan tidak begitu terpengaruh dengan acara ini. Yeah, I’ve never know what is on their mind, seperti yang sudah pernah saya ceritakan, seperti apa gambaran mereka.

Dan seperti yang saya duga, keamanan yang amat sangat rese pun terjadilah. Pertama, akses menuju lobby menjadi traffic karena ketatnya pemeriksaan di main gate. Barang apapun yang masuk ke hotel pun digeledah hingga sampai dalam-dalamnya oleh petugas. Saya sampai tergelak melihat seorang petugas memeriksa buket bunga yang dibawa seorang florist hingga ke sterofoam dan membolak balik bunga hingga ke daun-daunnya!  

Puncaknya adalah acara penyambutan kedatangan ambassador. Mulai jam 4, semua petinggi hotel termasuk GM sudah bersiap-siap di lobby. 4.15, saat saya seharusnya istirahat, terpaksa harus dipending dulu hingga ambassador datang. Huh! Beberapa tamu yang sedang menunggu mobil di lobby bahkan harus di ’pinggir’kan karena benar-benar sterilisasi area lobby khusus ambassador.  Wuihhh... and finally guys, jam 4.45 sebuah mobil polisi bak terbuka meraung-raung dan diikuti oleh sebuah mobil Land Cruiser Prado dengan plat bercat putih dan sempat saya perhatikan nopolnya CC xxx. Semua petinggi hotel yang sudah bersiap-siap segera menyambut si ambassador (yang ternyata seorang ibu-ibu berwajah Asia, mirip orang Indonesia dan seorang bule pria yang ‘biasa-biasa’ saja) menuju ke arah lift ke lantai 27 (padahal saya membayangkan akan ada iring-iringan super panjang yang terdiri dari beberapa mobil polisi dan pejabat keduataan yang kesemuanya bule). Yah, ternyata antiklimaksnya gini doang!

And the event run so well...  meskipun saya yang akhirnya bisa break harus kembali misuh misuh karena antrean di kantin sudah seperti orang ngantri sembako saking banyaknya staff yang incharge hari itu.

Soerang tamu saya ‘gatal’ bertanya,
“Kok ramai sekali banyak polisi di depan, ada acara apa ya mbak?”
“4th of July, Bu.” Karena event ini bukan untuk umum, jadi tidak boleh di share secara bebas apalagi untuk tamu yang tidak berkepentingan. Ibu-ibu tersebut lalu mengangguk-angguk, dan berlalu.
Pak sekuriti yang sedang incharge sama saya pun tiba-tiba ‘gatal’ juga bertanya sama saya,
“kenapa mbak tadi?”
“fourth of July”, saya jawab lazily.
“Uh, gak mesti. Belum tentu tamu tahu apa itu 4 juli.” Si sekuriti resek mencibir saya.
Eh, belum juga saya sempat membalas, seorang tamu hotel yang sedang lewat lagi-lagi bertanya ‘ada event apa kok rame banyak polisi’ pada saya. Dan setelah saya jawab fourth of July, si Bapak tamu saya pun automatically menjawab,
“Oohh... hari kemerdekaan Amerika toh..?”
Tuh kan mas sekuriti.... rasanya di dunia ini Cuma kalian saja yang gak tahu 4th july itu apaan!   

Sebuah PR, Proses dan Kenangan



Mulai post ini dan selanjutnya, saya akan mempublish beberapa tulisan saya mengenai pendapat saya tentang beberapa Top hotel di Bali selama saya melaksanakan On The job Training. Tulisan – tulisan tersebut dulunya adalah Pe-er dari Papi yang ditujukan supaya saya mengenal hotel-hotel lain selain hotel tempat saya training, menganalisis berbagai hal di dalamnya, seperti bengunan, arsitektur, lokasi, makanan dan minuman, keamanan, service, hingga hygiene. Tulisan –tulisan berbahasa inggris yang ampun-deh-mawutnya itu sengaja tidak saya edit alias saya biarkan seperti aslinya, karena tulisan – tulisan tersebut adalah dokumentasi dan bagian dari proses—dari yang dulu bahasa inggris saya amat sangat parah hingga kini hanya tinggal parahnya saja. Isinya berupa beberapa penilaian saya mungkin terlalu subjektif, karena memang saya menilai dari sudut pandang saya secara sepihak.

Overall, selamat membaca! 

Kapok Kayaking!



Liburan kemarin saya tidak pergi kemana-mana, dan entah mengapa kok saya malas sekali ngapa-ngapain. Karena gak ada kerjaan dan gak tau enaknya ngapain, mulailah saya iseng membuka-buka file foto lama saat saya masih di Bali. And you know guys, I kept a lot of my story there.

Yeah, saya tanpa sengaja membuka file foto saat saya liburan di pantai geger. Dan saya jadi teringat sebuah cerita. Ceritanya saat itu saya, adik laki-laki saya dan Harajuku berencana main ke pantai. Tujuan pertama sih, pantai Kuta, tapi karena kami bertiga dan motor hanya satu, gak mungkin kami naik motor boncengan bertiga karena pasti bakalan dicegat polisi.Finally, dicarilah pantai yang lokasinya dekat dan dijamin gak ada polisinya. Pilihan jatuh ke pantai geger. 


Lokasinya hanya 10 menit dari kosan saya, posisi pantai ini memanjang di belakang hotel St. Regis (lokasi geografis tepatnya saya tidak tahu). Sebelumnya saya pernah kesini sore-sore, tapi karena saat itu air laut sedang surut maka jelek sekali pemandangannya—kelihatan sekali ada banyak rumput laut yang dibudidayakan di sana-sini, saya jadi urung berenang karena takut gatal (sebenarnya saya tidak tahu apakah berenang di antara rumput laut itu bisa menyebabkan gatal atau tidak, tapi yang jelas saya ogah berenang—lebih tepatnya hanya berkecipak karena saya tak bisa berenang).


Kami sedang beruntung saat itu—turis tidak terlalu banyak dan air tidak sedang surut. Saya dan harajuku berendam di air dangkal dan berbincang, sedangkan adik saya—Azis lebih suka berenang dekat turis Jepang. Yah, diantara kami bertiga, hanya Azis satu-satunya yang bisa berenang. Dan sialnya lagi dia malahan lebih asyik berenang sambil menggoda cewek-cewek Jepang yang bening-bening itu daripada mengajari kami berenang. 

Saat sedang santai berendam itulah, tiba-tiba sebuah kayak meluncur begitu saja menghampiri kami. Kaget, langsung kami bubar dan ngibrit karena takut tertabrak. Eeh… penumpang kayak yang cewek-cewek Jakarta itu (saya taunya karena mereka ngomongnya elu-gue) malah ketawa-ketawa dan gak minta maaf sama kami yang sudah dibikin kaget dan membuat acara berendam kami tidak nyaman. Tapi entah mengapa melihat mereka bermain kayak dari pantai, saya jadi kepingin bermain kayak juga. Akhirnya sayapun memutuskan untuk menyewa kayak. Harganya gak murah, 50 ribu per jamnya. Dan maksimal hanya bisa dipakai 2 orang. Mau gak mau, karena kami bertiga ya, mainnya musti gantian. Sebelum kayaking, pemilik memberikan sedikit instruksi; pertama kayakinglah yang aman, artinya tidak boleh melewati bendera merah yang jaraknya kira-kira 50 meter dari bibir pantai, karena ombaknya besar dan lautnya dalam. Kedua, jika ingin belok ke kiri, maka dayunglah ke kanan, dan sebaliknya. Siaaaappp Paaaakkk…..!!

Percobaan pertama, aku di depan dan Azis di belakang.  Jalan mulus banget. Saya semangat sekali mendayung, sesekali tabrakan dengan kayak cewek Jakarta yang tadi hendak menabrak saya. Wuih.. senangnya saya! Dan ternyata mengemudikan kayak gampang sekali, seperti instruksi yang diberikan, jika ingin belok kanan maka dayunglah ke kiri, dan sebaliknya.

Satu putaran telah usai, gantian Harajuku yang naik kayak bersama saya. Sepert biasa, saya duduk di belakang. Kali ini saya malas berdayung, saya hanya leyeh-leyeh saja sambil rebahan menikmati semilir angin. Harajuku juga sepertinya ingin rileks, dan setelah sekian menit kami bersantai…


Kami mendengar teriakan-teriakan dari arah pantai. Seketika kami terbelalak, karena jarak antara kayak kami dengan pantai sudah terlihat jauh sekali, sementara jarak antara kayak dengan bendera merah sangat dekat. Pantas kayak terus-terusan oleng, karena ombak yang lumayan kencang. Kamipun jadi panik, dan berusaha memutar arah menuju pantai. Kami dayung sekuat tenaga ke kiri-kiri-kiri. Tapi kok ya kayak malah semakin jauh ke tengah. Kami kayuh dayung ke kanan-kanan-kanan. Tapi tak membuahkan hasil. Kami terus mendayung tanpa arah. Nihil.


Keringat dingin langsung membasahi sekujur tubuh saya. Jujur saya takut sekali, karena baik saya maupun Harajuku sama-sama tak bisa berenang. Kalau sempat kayak oleng dan terbalik, kalau saya harus tercebur, saya pasti tenggelam. Ya Tuhan, saya benar-benar takut…

Dengan pasrah, kamipun melambaikan tangan ke arah instruktur yang tadi menyewakan kayak ke saya. Untungnya instruktur tadi segera bertindak cepat, mengambil speed boat lalu meluncur ke arah kayak saya. Sayapun tertolong…

Sejenak kami lega karena terhindar dari bahaya. Instruktur menenangkan kami, memberikan kami sebotol minuman. Setelah agak rileks, saya pun mendatangi instruktur tersebut berniat mengembalikan kayak dan meminta bill.

“Baru juga setengah jam, mbak. Ini charge-nya 1 jam loh..” si instruktur malah rese mengompori saya. Tapi saya sudah terlanjur kapok, dan menggeleng pasrah.

“Gak deh mas, saya kapok. Setengah jam lagi naik itu kayak, saya mungkin sudah ada di dimensi lain.” Mas-mas instruktur malah ketawa setan.

“Ini mbak bill-nya.” Mas-mas instruktur kemudian memberikan bill kepada saya.

Buset! 250 ribu!!!

“50 ribu untuk kayak 1 jam, 100ribu untuk charge minuman, dan 100ribu untuk charge boat.” Hah....!!!!!!!!!!!!! ini sih mencari kesempatan dalam kesulitan...


Dan...


Sejak saat itu saya benar-benar kapok kayaking lagi!



*)Sebenarnya iri sekali dengan anak-anak kecil yang jago main kayak ini