Monday, 19 December 2011

A Cheapshit Flying Guest

Suatu sore yang biasa-biasa saja, seorang tamu bermasker check in. Seperti biasa, sambil menunggu receptionist memproses registrasi, saya mengajak ‘beliau’ ngobrol.

Singkatnya, saya mendapatkan banyak informasi dari tamu ini. Beliau adalah ‘korban’ pesawat gagal terbang sebuah maskapai mahal di Nusantara. Sebagai bentuk permintaan maaf, maka tamu tersebut ‘diinapkan’ di hotel ini. Saya juga sempat menanyai kenapa dia memakai masker. Jawabnya sih, dia sedang dalam penyembuhan dari sakit typus. Saya jadi heran, sejak kapan orang sakit typus dianjurkan pakai masker, ya?

Well, setelah proses registrasi selesai receptionist pun mengkonfirmasi tentang payment, bahwa maskapai penerbangan itu hanya menanggung kamar, makan pagi dan makan malam saja. Yang aneh, si tamu sempat tanya,”makan malamnya ada limitnya tidak, Mas?” dan dengan polosnya mas receptionist teman saya ini menggeleng. Lha wong di guarantee letter-nya memang juga tidak ada statement apa-apa.

Selang 2 jam kemudian…
Mbak-mbak waitress Restoran Chinese datang ke meja saya.
Waitress: Mbak ini betul tah kamar nomor 21XX ini makan malamnya ditanggung?
Saya: (Gak ngeh) kenapa emangnya?
Waitress: Saya lihat di system kan dia dapat allotment dinner, tapi dia ambil yang a la carte, bukan yang buffet…
Saya : (masih gak ngeh) lah terus?
Waitress: Lah ini mbak lihat sendiri billnya. Masa makan sendiri billnya ampe sejuta! (nunjukin bill ke saya)
Saya: (mikir dalam hati) Loh, billnya kok sebanyak ini, ya?
Waitress: ….

Saya pun lalu nyari mas- mas yang tadi mencheck-in kan tamu aneh itu. Dan seperti saya dan mbak waitress, dia langsung bengong begitu liat list bill yang panjang dan total tagihan makan malam yang gak masuk akal tersebut.
Mas Reception: Tapi aku tadi udah sempat telpon booker dari maskapai XXX dan mengkonfirmasi apa saja yang tertanggung. Dia bilang room, breakfast dan dinner.
Mbak Waitress: Lah tapi kalo bill-nya segede ini mana mau mereka bayar. Normalnya orang kalau dinner ya, yang buffet itu. Harganya cuman Rp.188.000,00.
Mas Reception: lah itu tadi orangnya makan sama siapa?
Mbak Waitress: Sendiri. Dia cuman makan ayam Hainan saja. Yang lain dibungkus.
Saya : Orang dia lagi sakit typus kok, mana bisa makan banyak kaya gitu?
Mas reception + Waitress: Haaahhhh????

Well, malam itu juga saat night briefing kami semua berdoa bersama, semoga besok waktu tagihan nyampe di booker, si booker tidak terkena heart attack karena ngasih compliment sama orang yang salah. Just imagine guys, kalo sekali lagi.. aja maskapai tersebut gagal terbang lagi and semua tamunya diinepin disini and semuanya makan malem ampe sejuta, saya yakin deh itu maskapai bakalan cepet-cepet gulung tikar. Hahahaha…

Live Band Bikin Budeg

Di hotel tempat saya bekerja, ada pertunjukan live band music mulai jam 9 malam setiap harinya. Band-nya sendiri gonta ganti setiap 3 bulan sekali, dan aliran musiknya pun juga ganti-ganti, kadang jazz, pop, atau reggae. Seringkali juga mereka bisa membawakan lagu-lagu tradisional semacam lagu ‘lingsir wengi’ atau ‘situmorang’ atau lagu-lagu oldist bahkan lagu keroncongan. Pokoknya mereka multi talented deh, at least buat saya pribadi.

Karena seringnya saya kebagian shift siang, maka keberadaan band ini bagi saya adalah salah satu penyelamat jiwa dari rasa bosan dan sepi. Apalagi kalau mereka sedang menyanyikan lagu-lagu favorit saya, saya seringnya ikutan ‘nyanyi’ bareng mereka. Sayangnya, khusus hari minggu, tidak ada acara live band music. Acara diganti dengan tayangan balapan F1 yang seringnya dijadikan arena taruhan. Hari minggu pas kena shift siang, buat saya adalah hari yang’garing’.

*)Live Band di Hotel ada deh...

Meskipun keberadaan band tersebut cukup penting buat saya, tapi kadang-kadang saya sedikit kesal dengan band tersebut. Apalagi kalau bukan masalah kencengnya suara band yang bikin orang mendadak budeg. Ditambah lagi, posisi band yang sedang main itu pas satu lantai diatas counter receptionist. Seringnya, jam segitu masih ada aja orang yang mau check in. Dan sebelnya, si tamu yang terkena syndrome budeg mendadak ini bener-bener terkena ‘budeg attack’ sehingga kalau nerangin apa-apa ke tamu receptionist musti setengah teriak. And lebih sebelnya lagi, karena saya guest relation yang harus bantuin receptionist pada saat tamu check in, jadilah saya yang kena ‘kewajiban’ teriak, eh nerangin ke tamu tentang settlement pembayaran seperlunya.

Saya: Pak Hendro, untuk kamar dan makan paginya sudah ditanggung oleh travel a…
Tamu: (nelengin kuping lebih deket ke muka saya)
Saya: Untuk kamar dan makan paginya sudah ditanggung ol…
(Background sound: welcome to the hotel California…)
Tamu : (geleng-geleng putus asa). Ini orang bener-bener deh budegnya…
Saya: (Ngencengin suara) JADI KAMAR DAN MAKAN PA…
(Lagu hotel Californianya tiba-tiba brenti ti ti!)
Saya: …GINYA SUDAH DITANGGUNG OLEH TRAVEL AGENT!!!
Tamu: (kaget dan langsung balik tereak) PELAN-PELAN NAPA MBAK NGOMONGNYA! SAYA KAN GAK BUDEG!!!

Saya ====> korek-korek kuping, mastiin apa saya terkena internal bleeding!

Tuesday, 13 December 2011

Teppanyaki Dinner

Masakan Jepang? Hmm…. Nyummy!!! Saya pribadi doyan sekali jenis masakan satu ini, entah itu kategori Yakimono (macam-macam panggangan), menrui (macam-macam mie), Donburi (makanan yang disediakan dalam kotak-kotak (lunch box / bento) seperti makanan bekal), shirumono (macam-macam soup), mushimono (macam-macam makanan yang di steam), atau agemono (macam-macam makanan yang di goreng dalam minyak banyak). Sengaja saya pisahkan sashimi karena saya masih kurang ‘nekad’ untuk mengkonsumsi daging mentah. Nah, dari berbagai macam jenis masakan Jepang tadi, ada satu jenis masakan yang metode memasaknya menggunakan tepan (lempengan besi panas dengan atraksi kokinya di depan tamu) yang menjadi salah satu favorit saya.

Di suatu sore yang biasa-biasa saja, saya mendapatkan undangan makan malam dari seorang teman ekspat Jepang yang tinggal di sebuah hotel bintang 5 megah di kota pahlawan ini. Gara-garanya, beliau merasa berhutang budi sama saya, beliau meminta saya menjelaskan contrac condition apartemen dia yang notabene dalam bahasa inggris yang dia tidak ngerti. Ditantang menu Italian, saya yang kurang ‘sreg’ dengan pasta atau pizza pun langsung ngeles “Nihon ryouri no resutoran ga arimasenka?” (gak ada restoran Jepang ya disana?) dalam hati saya membatin, saya kok ya lancang bilang begitu. Udah diundang, pilih – pilih lagi. Tak tahu diri sekali saya ini! Tapi teman Jepang saya malah surprise saya mau makan masakan Jepang dan malah semangat mau menjemput saya segala!

Well, tadinya saya membayangkan beliau akan mentraktir saya makan sushi dan teman-temannya (dan kebetulan saat itu memang saya lagi pengin banget makan sushi... tapi apa daya duit di kantong tak sampai karena harga sushi favorit saya di restoran sushi terkenal di Surabaya langsung membuat saya jatuh miskin! Oh No!) Kami melewati meja paling depan, lalu berjalan langsung ke dalam. Ternyata, restoran Jepang di hotel mewah yang satu ini terdiri dari 3 ruangan. Ruangan pertama, untuk specialties makanan yang ala carte. Ruangan kedua, terdiri dari meja-meja yang di tengahnya ada stove-nya. Ini untuk jenis makanan Shabu-Shabu atau yakimono. Beliau melenggang dengan santainya menuju ruangan ketiga. Surprise! Saya pun digiring menuju tepanyaki! Seorang waiter langsung mendatangi kami dan berkata,
“ Kalau disini ada minimum charge-nya pak… 1,8 juta.”
What???!!! Kepala saya langsung nyut-nyutan. Makan apaan minimum charge ampe hampir 2 juta?? Padahal kami loh cuma berdua.
Eh… tapi si ekspat malah nyantai mempersilahkan saya duduk. Saya jadi heran, ini orang cuek aja maksudnya emang dia udah tau atau pura-pura gak tau, saya gak ngerti. Lagian, sebodo amat. Orang dia yang traktir!
“Douzo…! Douzo!” katanya.
Seorang waiter yang lain membawakan buku menu yang tidak kami sentuh sama sekali. Si ekspat langsung order menu, menawari saya minuman, bir atau wine yang saya jawab dengan:
“Juuzu o onegaishimasu…”1) dan beliau langsung mingkem. Hahahaha…

Yang keluar pertama kali adalah salad sayuran dan jus pesanan saya. beliau sendiri minum bir kaya minum es teh saja, glegek-glegek kaya orang 2 hari gak minum air. Sementara saya menikmati salad, koki memanaskan tepan dan mempersiapkan bahan. Pertama yang dia masak adalah kentang, konyaku2), labu kuning, bawang Bombay dan tofu yang cuma di grilled saja. Belum juga saya menghabiskan ronde pertama saya, si koki sudah menyiapkan ikan salmon, sebagian di grilled (lagi-lagi minimalis hampir tanpa bumbu sama sekali) dan direbus hanya dengan shoyu3). Selanjutnya adalah udang. Udang sebesar itu, cuma dikupas sedikit kulitnya dan dibelek diatas tepan. Dagingnya yang putih itu mekar sangat cantik dan aromanya semerbak. Wiiiihh… jago banget ini mas kokinya!


*)Koki Teppanyaki
source: google image

Selanjutnya, si koki pun memulai atraksinya dengan ‘binatang’ selanjutnya yaitu lobster. Lobster segede lengan saya ini cuma dibelah jadi dua bagian dan saya lihat kaki-kakinya masih bergerak di atas tepan. Lobster yang masih setengah hidup itu di panggang di atas tepan, di kasi mentega dikit, lalu hap! Dalam sekejap daging lobster yang putih itu terlepas dari cangkangnya! Plok..plok..plok..!!!

Dari sini, perut saya sudah mulai kenyang. But show must go on. Rugi banget kalo yang begini ini missed, kan? Hehehe… cheapshit saya mulai kambuh. Dan yang selanjutnya terhidang adalah Gyuniku atau kategori daging sapi, bagian sirloin dan tenderloin yang masing-masing diiris kubus dan dilumuri semacam bumbu, lalu di grilled. Sebagian lagi, lagi-lagi direbus dalam shoyu di dalam cawan yang terbuat dari aluminium foil. Sampai sini, perut saya sudah berontak tak mau diisi lagi saking penuhnya. Saya pun mencicip sedikit, karena hidangan selanjutnya telah menanti, yakni sauted vegetable. Saya, yang notabene cenderung vegetarian, ya hap hap hap saja. Suapan ketiga, saya lemes lagi dan memelas ke mas kokinya,
“ini makanan kok gak abis-abis ya chef? Masih banyak lagi kah?” kokinya senyum dan menjawab singkat, kalau orang yang makannya banyak, suka makan di tepanyaki. Hahahaha…
Meski jawabannya gak nyambung, but then ternyata hidangan terakhir yang disajikan adalah nasi goreng. Waduh! Dilemma eh dilemma! Gak dimakan sayang, kalau dimakan perut sudah kenyang. Sumpah aromanya benar-benar menggugah selera. Saya paksa untuk makan 3 suap, bener-bener enak! Oishii desuyo…!

Masih belum puas, mas koki (kedengerannya kok kaya nama ikan yah?) menawari kami dessert berupa es krim bakar. Saya lihat, mas koki membawa 2 buah pisang dan 2 skop es krim. Saya kira sih mau dibikin semacam banana spilt gitu. Eh ternyata pisangnya di grilled di atas tepan, ditaburi cinnamon powder sedikit, lalu disekelilingnya diperciki minyak dan whisky, yang kemuadian dibakar. Istilah kerennya, di flambĂ©. Api pun berkobar-kobar seperti penari striptease di atas tepan selama beberapa saat. Benar-benar hidangan penutup yang keren!

Seolah masih ada additional surprise, si ekspat pun meminta bill. And you know guys, tagihan yang tertera di bonnya, 3,5 jeti! Alamak!!! Ini beneran makan malam paling mahal dan paling keren buat saya! Saking tercengangnya sampai saya lupa ambil gambarnya!

Note:
  1.  Juice please!
  2.  Makanan olahan yang berasal dari sari umbi talas
  3.  Kecap asin Jepang

Sunday, 11 December 2011

Anak- Anak = BERISIK!!!

Bicara mengenai tamu di hotel, saya pribadi mengklasifikasikannya menjadi dua jenis, yakni tamu dewasa dan anak- anak.

Beberapa hari yang lalu, ketika saya incharge di front desk, seorang tamu bule berkebangsaan belanda sedang check in di konter saya. Bule tersebut, sedang menunggu kartu kreditnya diproses, ketika tiba-tiba seorang baby sister lewat sedang menggendong seorang bayi kecil berusia sekitar 6 bulanan. Si bayi yang ada di gendongannya menangis meraung-raung, rewel tak tau maunya apa. Si bule mulai gelisah, dan akhirnya membungkuk ke arah si bayi dan berkata,
“ hey, you make noisy…! You make noisy..!”
Eh ladalah si mbak-mbak baby sister ternyata gak ngerti kalo si bule itu gak suka sama anak kecil berisik. Si mbak malah senyum-senyum gak jelas trus malah nyorong-nyorongin bayinya ke muka si bule. Alamak…!!!  Ntar bayi situ ditelen itu bule belanda baru nyahok lo mbak!! Hahahaha…

Di hotel saya juga punya langganan Chinese Resto namanya pak Tris. Pak Tris ini, kalau datang pasti selalu membawa cucu- cucunya yang ampuuuunnnnn deh berisiknya. Complain, sudah jadi hal biasa lah kalau beliau kesini. Cucunya memang luar biasa, gak cuman main lari-larian dan teriak-teriak.. nih anak-anak bandel malah main petak umpet di hotel! Pernah vas raksasa sampai ambrol karena dipakai jungkir-jungkiran. Gak cuma itu, mereka juga pernah sekali menumpahkan minuman fanta warna merah ngejreng ke karpet berwarna terang. Duh….

Saat dulu masih kerja di Chinese restaurant, complain terberat adalah ketika seorang bapak – bapak dengan nada ironi menghampiri saya dan bertanya,
“ Mbak, di sini ada hammer tidak?” Pertanyaaan yang amat sangat tidak lazim. Saya pun bertanya balik,” Lah hammer buat apa, Pak?”
Eehh.. si  bapak monyongin bibirnya ke rah dua anak kecil yang berisik di meja sebelahnya “ buat pukul tu anak kecil supaya gak ribut!”
Buseeeeettt…  galak amat paaaakkkk!!!!

Yang aneh, suatu malam saat saya sedang makan malam di sebuah restoran Jepang di Bali bersama seorang teman saya yang bermarga Kameyama, di dekat meja kami adalah meja sekeluarga bule, 2 dewasa, dan 2 orang anak. Sejak mulai masuk restoran sampai main course saya mau habis, anak- anak bule ini berisik minta ampun. Ya main kejar-kejaran lah... teriak- teriak khas anak-anak. Saya sendiri hanya iseng memperhatikan, orang tua mereka sibuk memarahi mereka berulang kali tapi yang namanya anak-anak, tetap saja tak bisa dikasih tahu. Buat saya sih tidak masalah… saya justru suka memperhatikan mereka bermain dengan polah tingkah mereka yang lucu. Beberapa kali saya juga sempat bertemu pandang dengan si ibu anak bule, yang kemudian hanya dibalas dengan anggukan tak jelas, lalu kasak kusuk sebentar dengan suaminya.

Ketika hendak menikmati dessert kami, saya lihat keluarga itu sudah berkemas dan hendak meninggalkan restoran. Ayah anak-anak itu, seorang bule besar bertato, bertampang cukup garang tiba-tiba menghampiri meja kami. Saya kira si Bule mau marah-marah karena saya lihat roman mukanya gak enak, mungkin karena dari tadi saya memperhatikan anak-anaknya. Eh, gak taunya pas dekat, suara si bule jadi melow.
Si Bule Besar: Excuse me, I am so sorry that my kids were disturbing you !
Saya + Temen : (Bengong sejenak) It's Ok, it's Ok...
Hahahaha...Yaaahh.. kirain ada apa…Ternyata si Bule bertato tadi bodi dan attitudenya berbanding terbalik, hehehehe...

*)Nah, yang ini kan lucu banget ya?

Noted: Meskipun anak-anak itu berisik dan unutk beberapa orang mereka itu annoying, buat saya sih.. anak kecil tetap lucu dan menggemaskan :)

Sunday, 27 November 2011

My 'Ndesit' Guest


Dulu saya bisa saja nyombong mengatakan bahwa semua tamu hotel yang saya temui selama beberapa tahun ini bekerja di hotel adalah orang-orang hi-end dan sophisticated yang menganut aliran hedonis semua. Saya sampai menertawakan seorang dosen housekeeping yang cerita tentang betapa ‘ajaib’nya beberapa tamunya yang orang distributor daerah yang kebetulan mendapatkan bonus menginap di hotel bintang 5 di ibukota. Ada yang hanya pakai sandal jepit, ada yang pakai celana kolor, hingga bersarung! Apa coba? Yang lebih membuat saya terpingkal-pingka adalah, ada seorang bapak-bapak salah satu anggota group itu juga, jalannya nunduk-nunduk sambil nuwun sewu dan.. nyeker! Iya, sandal jepitnya di-cangking gitu aja, gara-garanya si bapak di kampung kalau masuk rumah kan sandalnya dilepas gitu loh! Hahahaha… Saya kira itu hanya lelucon atau mitos penghibur di sela-sela matakuliah yang membosankan. Eh… ladalah ternyata saya juga mengalami hal yang kurang lebih sama beberapa hari yang lalu.

Ceritanya, hotel kedatangan grup besar komunitas seni dan budaya yang mendapatkan support dari pemerintah daerah. Ada sekitar 500 orang yang datang, dan bakalan menempati sekitar 220 kamar. Jadi, per kamarnya dihuni 2-3 orang. Karena semuanya sudah diprepare malam sebelumnya, saya kira semuanya akan berjalan dengan lancar. Tak ada firasat suatu hal yang aneh bakalan terjadi.

Mulai jam 10 pagi, segerombolan peserta mulai datang. Pesan dari panitia, setiap peserta yang datang harus registrasi dulu di meja panitia yang kemudian harus ke ruangan di ujung lobby untuk difoto dan mendapatkan kartu peserta, baru kemudian registrasi di front desk untuk check in. Well, sepertinya akan gampang kalau yang saya hadapi itu bukan orang daerah. Masalahnya, begitu masuk lobby mereka langsung menyerbu konter front desk. Bagus lah kalau antri, masalahnya ini menggerombol aja sampe receptionisnya gak keliatan karena ketutupan orang segitu banyaknya. Saya datangi dan meminta mereka untuk registrasi dulu ke panitia, eh… saya tidak digubris. Beberapa teriak-teriak memanggil temannya dan beberapa sibuk ngerumpi sendiri. Seorang bellman mencoba mengatur koper yang berserakan gak karu-karuan di depan konter, eh.. malah dipelototin sama yang punya. Takut hilang, katanya. Ya oloh….

Menyerah, sayapun memanggil panitianya dan meminta mereka sendiri yang mengurus proses registrasi awal karena usaha saya gagal. Si panitia dengan wajah memelas, membujuk beberapa anggota menuju ke desk panitia. Dengan susah payah, dibantu olah lima rekan yang lain, lumayan lah konter saya sedikit terselamatkan. 
Selang dua jam, para peserta kembali menyerbu konter front desk untuk check in. bener-bener ini hotel udah kaya konter pembagian sembako saking ramai dan kacaunya. Tiap orang berdesak-desakan maunya dapat kamar duluan. Padahal gak pakai ngotot juga, mereka semuanya bakalan kebagian, kan? Tapi kok ya gak ada yang mau mengerti kalau dikasih tau. Duh!

Urusan check in kelar, beberapa rombongan sudah siap menuju ke kamar. Kalau tamu biasa sih, meskipun baru pertama ke hotel ini, tinggal ditunjukkan mana liftnya saja, mereka sudah tahu. Tapi kalau group ini??? Saya harus mengkoordinir beberapa gelombang yang saya harus antarkan sampai ke kamar. Jangankan tahu fasilitas kamar, cara naik lift aja mereka gak tahu loh. Beneran. Malah dari beberapa orang yang saya antar, ada yang duduk jongkok sambil pegang kepala saat lift naik karena pusing dan takut. Nah lo?? Saya sampai gak ngerti apa saya harus tertawa atau menangis saking 'takjub'nya.

Selesai mengantarkan mereka semua ke kamar, saya balik ke konter dengan lutut berasa mau lepas. Duh cuapeknya! Saya sempat mendengar seorang tamu dari grup yang sama protes karena dia ditempatkan sekamar dengan anggota lain yang laki-laki. Hahahaha… ini gimana sih panitianya?? Karena pihak hotel menerima rooming list dari panitia sudah lengkap dengan nama sharer-nya. Masa panitia tidak bisa bedakan mana yang laki-lai mana yang perempuan??? Saya beniat mau minum sebentar ke pantry ketika seorang tamu mencolek punggung saya. Sayapun reflex menoleh dan oh No! tamu dari group itu lagi!! 
“Mbak, ini gimana ya tadi saya keluar sebentar ke kamar teman saya tapi saya lupa kartu (kunci maksudnya) saya tertinggal di dalem, saya tak bisa masuk kamar saya lagi… ”

Hiks hiks hiks, kali ini saya memang harus menangis saking ‘gemes’nya.
  

Thursday, 24 November 2011

Balada Porter


Kalau bicara masalah tip… saya kok bawaannya keinget porter ya? Buat saya yang setiap harinya di hotel, setiap kali melihat porter kerja, setiap kali itu pula saya melihat mereka di-tip. Ooopsss.. sepertinya saya salah sebut. Porter di hotel punya nama yang lebih elit, yaitu bellman. Mereka juga punya section tersendiri yaitu section bell desk yang biasanya bergabung dengan concierge atau berdiri sendiri di bawah Front office department.

Meskipun elit, kerjaannya toh bagi saya kurang lebih sama – ngangkut koper segede gaban—meski gak semuanya tamu bawa koper. Ada beberapa yang bawaannya berupa tas golf sepanjang hampir 2 meter, tas ransel yang bueratnya alamak, bantal guling boneka (ini mau nginep di hotel apa mau kemping di pekarangan rumah???), sampai bawaan yang dibungkus kardus bekas (iya kardus! Mirip penumpang bus di terminal, hehehe... maap! Bedanya, yang namanya porter itu ngangkut barang ya main angkut aja, kalau bellman biasanya dibekali dengan troli sangkar burung dan troli dorong yang bagus dan mengkilap. Meskipun ada troli, seringnya saya merasa kasihan karena kadang-kadang tamu tak berperike-koper-an. Yang nginap cuma 3 orang (2 dewasa dan 1 anak), tapi bawaannya 2 troli! Lah mau nginep 2 hari aja bawaanya segini banyak, gimana mau pindah rumahnya ya??? Selain troli, kalau di resort-resort besar, saya perhatikan porternya juga dibekali dengan buggy, atau apa ya namanya. Yang jelas ini sejenis mobil bak terbuka yang bagian depannya dimodifikasi sedemikian rupa hingga tak berpintu dan tidak berdasbor.  

*)Salah satu model buggy--tapi yang ini untuk tamu
Source:Google

Profesi bellman/porter ini, meski bagi sebagian orang dinilai sebelah mata, bagi beberapa orang tertentu bagian inilah yang malah dicari. Alasannya?? Ya karena disinilah lahan basah yang paling basah dari keseluruhan departemen yang ada di hotel. Umumnya, orang lokal memberi 5ribu-10 ribu per kopernya. Sedangkan orang bule kebanyakan ngasih sedolaran per koper. Saya kadang-kadang iseng berhitung sendiri berapa pendapatan seorang bellman per harinya. Kalau dalam 1 shift (8 jam kerja) seorang bellman minimal mengantarkan 10 kali, dan setiap kalinya paling apes dapat 5ribu… sehari itu dia sudah dapat 50ribu kan??? Padahal tiap harinya mereka mengantar barang bawaan tamu hingga puluhan kali.

Dulu waktu masih di Bali, saya berkesempatan training di section ‘basah’ ini. Hari pertama, saya diajak seorang bapak bellman senior mem-pick up luggage di beberapa kamar rombongan orang Jepang. Karena barangnya pasti banyak, beliau membawa buggy. Saya jadi ‘kernet’nya saja. Mengambil koper-koper dari kamar ke kamar memang sangat menguras keringat, tapi begitu kami tiba di lobby, cewek-cewek Jepang yang bening-bening itu langsung menyerbu, mengambil koper masing-masing dan setiap orang menyelipkan tempelan sedolaran! Hahahaha.. sekejap saja saya sudah mengantongi 23 dolar, yang saat itu sedolarnya senilai 9ribuan. Hehehehe…  sayang bapak-bapak tersebut besoknya tidak mengajak saya pick up luggage lagi… mungkin takut tip-tipannya diembat sama saya. haha!

Saya pernah mendengar cerita sari salah seorang dosen front office saya semasa kuliah. Salah satu teman lamanya ada yang berprofesi sebagai seorang bellman di hotel di Jogjakarta. Namanya pak Rahman. Sudah bekerja selama 12 tahun (catatan: hingga sekarang) dan tetap setia menjadi bellman. Kalau anda mengira pak Rahman ini tidak berprestasi, itu salah. Beliau malah menjadi salah satu staff of the year di hotel tersebut, dan bukan berarti beliau tidak mendapatkan promosi. Pak Rahman selalu menolak promosi apapun karena alasan sederhana: gaji sebagai manager sekalipun tak bisa menandingi penghasilan beliau per bulan katanya. Hahahaha….

Friday, 18 November 2011

Kakiku Sayang, Kakiku Malang...


Di hotel tempat saya training, saya mendapatkan fasilitas seragam lengkap dengan segala atributnya. Mulai dari ikat pinggang, name tag, hingga sepatu. Dan dari sinilah peristiwa ‘menyedihkan’ itu dimulai….

Sepatu yang dibagikan ini, terbuat dari kulit imitasi yang keras kalau dipakai. Bentuknya sih ‘standart’ saja… ‘trepes’ begitu atau flat shoes, bahasa kerennya. Berwarna cokelat agak tua, yang bolong di ujungnya semacam selop. Seharusnya sih… ini sepatu nyaman digunakan. Tapi dasar Resort dimana saya training ini ‘pekarangannya’ luas banget, dan saya harus mondar mandir tiap hari… jadilah sepatu ‘sialan’ itu tak bersahabat dengan kaki saya. Kakipun melepuh di bagian bawah jari-jarinya, di bagian mata kaki juga lecet-lecet dan membekas sampai sekarang. Saya menertawainya sebagai ‘stempel’ lulus training di resort itu… karena ternyata semua trainee juga mengalami hal yang sama.


*)kiri: Kaki saya yang 'mengenaskan' kanan: sepatu sialan

Saking stressnya dengan sepatu sialan itu, saya pun ngadu ke Tak saya yang saat itu masih di London, UK. Tak sepertinya ‘santai’ saja mendengar keluhan saya yang ‘setengah mati’ gak bisa adaptasi ma sepatu. tak lalu menyarankan membuat sepatu sendiri yang bahannya lebih nyaman… sayang Resort tidak mengizinkan. Semua atribut dan seragam yang dipakai harus dari resort. Jadilah saya hanya bisa mengeluh.
Lucunya, dua bulan kemudian datanglah pak pos mengantarkan paket kiriman dari London… saya kira isinya apa… eh ternyata beberapa blister semacam plester kaki begitu dan sponge alas kaki supaya kaki gak lecet. Nah lo, jauh-jauh dari London loh ini!!!

*)Oleh-oleh dari Tak nun jauh dari London

Pindah kerja, ternyata penderitaan kaki saya belum berakhir. Incharge sebagai VIP relations, saya harus berpenampilan super ‘cewek’. Harus mengenakan rok panjang yang ada belahannya, berstoking, berselendang dan… eng ing eng… ber high- heels!!!! Kalau yang satu ini buat saya bukanlah high heels tapi high hell *)ketawa setan. Saya sudah wanti – wanti beli sepatu super mahal supaya kaki saya nyaman. Tapi loh ternyata kaki saya yang ndeso ini tetep aja gak mau kompromi dengan high hell sialan, pulang kerja adalah saat yang paling saya tunggu karena kaki saya sudah teriak-teriak, pegel luar biasa. Mengikuti saran seorang teman, saya berniat membeli koyo. Kata teman tersebut, pakai koyo di daerah yang pegal rasanya seperti dipijit-pijit. Sayapun mencoba. Saya tempel koyo di beberapa bagian kaki, di telapaknya, di punggung telapak, dan di betis. Lalu saya mencoba tidur. Apakah yang terjadi??? Bukannya saya malah terlelap karena merasa dipijit, malahan saya tidak bisa tidur sama sekali karena si koyo menyiksa kaki saya semalaman. Kulit saya serasa terbakar karena kepedesan. Gak tahan, sayapun mencopot koyo sialan dari tempatnya. ‘Krek!’ Wadaaaaaaaaaaaawwwwwww….. beberapa bulu kaki saya tercerabut dari akarnya dan rasa ‘pedas’ tak juga hilang semalaman. Sial!

The Tip Hunter

Di Hotel, Department yang bagi saya adalah lahan ‘basah’ (banyak kesempatan untuk mendapatkan tip) ada dua, yaitu FB (Food and beverage) Service, dan Front Office. Untuk department FB, saya kurang tahu karena memang bukan ‘wilayah’ saya. Tapi untuk FO ada beberapa section yang lumayan ‘basah’.

Pertama, receptionist. Tentu, karena segara urusan keuangan tamu kan langsung dilayani di reception. Tapi hari gini, jarang sekali tamu bayar pakai uang cash, karena jaman sekarang kan uang di dalam kartu jauh lebih laris manis dari pada uang kertas yang gampang dipalsukan. Cara paling jitu supaya tamu ngetip ya… baik-baikin tamunya. Sebisa mungkin berilah kamar yang sesuai dengan expectasinya. Asal jangan terlalu baik and malah dimanfaatin tamu untuk nego harga. Hehehehe…

Kedua, Concierge. Concierge sendiri sebenarnya dibagi lagi menjadi beberapa section, tapi yang paling ‘basah’ biasanya adalah bellman dan valet. You know lah, bellman adalah porter yang membawakan barang bawaan tamu ke kamar, yang memang sudah seperti kewajiban, tamu akan memberikan tip sebagai kompensasinya. Sama halnya dengan bellman, tugas valet tak kalah penting. Meski ‘hanya’ memarkirkan mobil dan membawanya kembali di hadapan tamu, you know orang yang menginap di hotel (apalagi bintang lima) jarang sekali yang bawa mobil jelek. Adanya malah mereka seperti jor-joran pamer mobil yang satu bawa mercy, satunya lagi pamer Jaguar, satunya lagi VW keluaran terbaru, Mini cooper yang mirip dengan mobil Mr. Bean yang lucu itu, bahkan seringnya saya temui jenis mahal seperti Hummer yang Limousine, atau Roll Royce. Bisa dibayangkan betapa berat tugas valet, mereka yang pegawai biasa dengan gaji yang ‘biasa’, harus bekerja dengan menanggung resiko yang lumayan ‘mahal’. Bisa dibayangkan jika seorang valet kurang hati-hati dalam bekerja, sebuah mobil mini cooper (yang konon katanya limited edition; setiap warna yang dikeluarkan hanya ada 2 unit di dunia) yang dikemudikan menyerempet sesuatu hingga ada scratch di body-nya, yang punya bakalan ngamuk-ngamuk dan nangis-ngangis setengah mampus saking limited-nya mobil itu. So, sayapun bisa memaklumi jika mereka berpendapat semakin mahal mobilnya, biasanya tamu juga akan memberikan tip semakin banyak. Ongkos gengsi juga lah tentunya… masa iya mobilnya Vellfire tapi ngetip cuma lima ribu? Gak lepel lah ya…

*)Mini Cooper Limited Edition-- Source: Google Image

Bagian lain yang seringkali basah biasanya doorman. Tugasnya simple dan minim resiko, yaitu membukakan dan menutup mobil tamu yang hendak masuk/keluar mobilnya sendiri. Kadang-kadang, memanggilkan taxi dan memberikan taxi card. Sedangkan seorang driver, jarang sekali ‘basah’ kecuali jika tamu benar-benar puas dengan pelayanan driver tersebut, karena tamu sudah membayar cukup mahal ongkos mobil hotel.

Meskipun ‘basah’, seringkali juga seorang staff tidak mendapatkan tip. Karena factor seleksi alam, mereka pun berevolusi menjadi seorang ‘tip hunter’, alias manusia pemburu tip. Dan menurut pengamatan saya selama bekerja di hotel, seorang staff yang berevolusi menjadi tip hunter ini memiliki beberapa cirri-ciri, yaitu:
  • Tip oriented alias segala sesuatu yang dilakukan untuk tamu tidak berdasarkan standart yang berlaku tapi berdasarkan tip. Pernah melihat seorang staff yang lebay menawarkan bantuan kepada anda padahal anda merasa tidak perlu dibantu? Itulah staff yang mengharapkan uang tip dari anda.
  • Hafal plat nomor kendaraan tamunya. Tentu saja tamu yang ‘86’ yang selalu dihapal nomor polisinya. Diluar itu, tentu cuek saja. Tujuannya jelas, staff tentu akan aware ada seorang tamu royal yang datang, apalagi bila tamu tersebut termasuk dalam kategori big tipper alias suka memberi tip dalam jumlah yang besar.
  • Service tebang pilih. Maksudnya, akan ada kesenjangan dalam service quality antara tamu yang seorang tipper dan yang bukan. Tipper, selalu diistimewakan dan segala kepentingannya didahulukan.


Well, my question is, are you a tipper???

Monday, 26 September 2011

ABG Labil, Bintang Korea and Meeting Direksi

Baru saja kemarin hotel saya kedantangan tamu seorang actor Korea yang konon katanya (soalnya saya tidak kenal, hehehe!) terkenal sekali di negeri asalnya. Jangan tanya saya namanya siapa, karena tamu tersebut incognito alias tidak mau diketahui identitasnya selama di hotel. Tapi dengar-dengar bintang korea ini namanya hangeng atau hongeng gitulah tak jelas, secara saya juga bukan pecinta film drama Korea and know nothing about Korean name.

Ceritanya, si bintang Korea ini mau premier film terbarunya dan mengadakan promo tur di berbagai negara, salah satunya Indonesia, yang kebetulan, singgah di Jakarta dulu sebelum sampai di Surabaya. Jadi berita kedatangannya, sudah diketahui oleh fans-fansnya yang gilaaaa… para abg-abg labil yang hobinya jejeritan. Maklum, sang bintang yang cute dan unyu-unyu ini, sudah lama sekali dinantikan kehadirannya di Indonesia.

Yang bikin dongkol, fans-fansnya yang di Surabaya sini ternyata jauh lebih heboh ketimbang fans-fansnya di tempat lain. Hotel yang biasanya tenang dan lengang, mendadak ramai luar biasa berasa di Shopping mall. Sang bintang ke ruang ‘A’, fansnya grudak-gruduk menyerbu ruang ‘A’. Sang bintang ada jumpa pers di ruang ‘B’, fans langsung menyerbu ruang ‘B’. Iiiihh…. Saya sampai risih sekali melihatnya.

*)Hangeng yang Unyu-unyu--source: google

Sang bintang dijadwalkan akan mengisi acara di shopping mall terbesar di Surabaya, tapi gak jadi tampil karena sang bintang gak bisa keluar hotel saking banyaknya fans yang sudah ‘nyegat’ baik di dalam maupun di luar hotel.  Jadilah, sang Bintang stuck dan mengisi jumpa pers di ruang meeting ‘A’. dan fans yang ada di luar benar-benar tak bisa dikendalikan. Meski bodyguard yang dikerahkan cukup banyak, fans masih juga bisa menyeruak masuk. Meski tak bisa masuk di meeting room tempat sang bintang jumpa pers, fans-fans tersebut jejeritan tak karuan melihat bayangan sang bintang dari balik kaca, tak perduli banyak tamu lain yang sedang meeting di meeting room sebelahnya.

Alhasil, komplainpun berdatangan karena suara ribut-ribut ini. Saya yang kebetulan naik ke lantai 2 menuju ke health Club dan harus melewati koridor meeting room,  hamper-hampir tak bisa lewat karena fans-fans tersebut memblocking jalan. Di ujung koridor, seorang bapak-bapak (dari penampilannya sepertinya beliau salah satu peserta meeting) dari meeting room ‘C’. Tak Cuma men’cegat’, dengan tampang marah, bapak-bapak tersebut menghardik saya.
“Ini Hotel bintang 5 kok kaya pasar sih, berisik banget.”
“Ma..ma..af… Pak..” Saya memelas.
“ Anda tahu tidak, di dalam kami sedang meeting direksi. Tapi kami semua tak bisa konsen meeting karena suara di luar berisik!”
“……..”
Saya menunduk dalam-dalam, tak tahu harus berkata apa lagi.
“Tapi memangnya ada apa sih, kok rebut sekali?”
“Ada artis Korea Pak, yang ribut-ribut itu fansnya…” Saya masih memelas, menunggu respon bapak-bapak kantoran ini yang air mukanya seperti gunung berapi status siaga satu.
Tanpa disangka-sangka…  reaksi si bapak-bapak melunak,
“Kok saya gak tahu ya? Wah.. anak saya pasti suka ni… tahu gitu saya bawa sekalian anak saya ke Surabaya, Mbak..Mbak!”

Wtf, ternyata anak direksi juga ngefans bintang Korea! Hhhhh…

Enak dan Gak Enaknya Kerja di Hotel

Sebagai seorang hotelier yang lingkup kerjanya ya melulu di hotel, kadang-kadang saya sering mendapat pertanyaan kanan kiri dari beberapa teman dan tetangga, “sebenarnya, apa sih enaknya kerja di hotel?” well, rasanya kok tidak adil kalau saya jawab kerja di hotel itu enak, karena pada dasarnya setiap pekerjaan itu ada enak dan tidaknya. Untuk itu, mewakili semua pertanyaan yang selama ini bersliweran, saya akan uraikan sedikit mengenai enak dan gak enaknya kerja di hotel.

*Note: yang saya maksud disini yang frontliner saja, sesuai dengan department yang saya geluti.

ENAKNYA:

  • Gaji yang terdiri dari  3 sumber, yaitu gaji pokok, service charge, dan tip (kalau beruntung). Selain gaji, meal allotment (jatah makan) juga didapat di kantin hotel. Biasanya 1x per shift sak warege kata orang Surabaya (sekenyang-kenyangnya kalau mau), tapi kalau mau 3x juga  bisa, syaratnya putusin dulu urat malu anda!
  • Gak perlu pusing mikirin seragam kerja yang belum sempat tercuci, karena hotel (ini yang 5star loh..) biasanya punya laundry sendiri. Kalau mau incharge, tinggal menukarkan uniform card ke laundry counter dan seragam yang sudah bersih dan wangi sudah siap dipakai.
  •  (ini yang paling sering kejadian) Air di kosan mampet! So, what I have to do? Tenang bro, hotel kan punya loker yang dilengkapi dengan wastafel dan shower (ada air panasnya lagi) lengkap dengan handuk, sabun cair dan shampoo. Kalau air di kosan tiba-tiba mampet ya.. langsung aja ngibrit ke hotel. Hehehe… kadang-kadang selesai kerja juga saya seringnya berlama-lama mandi air panas di loker yang saya guyurkan di belakang leher dan punggung. Berasa dipijat, pulang kerja  saya sudah fresh dan relax.
  • Ruang kerja yang nyaman dan sejuk (karena ber-AC), bersih dan selalu terlihat kinclong.
  • Dapat fasilitas kelas bahasa asing yang difasilitasi HRD. Gratis! Kalau mau, ada juga kelas aerobic seminggu sekali dan kelas music. Kalau ada banyak waktu ya hayuk aja!
  • Customer yang datang rata-rata ‘orang gedean’ yang dandanannya cantik, ganteng dan wangi. Yang meskipun kadang-kadang tidak suka senyum, tapi enak dipandang. Kalau beruntung, bisa ketemu dengan artis ibu kota sampai pejabat. Bandingkan dengan dokter yang customernya orang-orang sakit yang berhari-hari gak mandi. Hiiiiyyyy… ya, gak?
  •  Jenjang karir jelas (dengan catatan harus rajin belajar dan berprestasi di tempat kerja loh ya..)
  • Dapat harga khusus associate jika ingin menginap di hotel dimana anda bekerja, dan di chain-chainnya (jika hotel anda adalah chain hotel), dan harga special untuk produk-produk/ souvenir khas hotel dimana anda bekerja.
  • Rata-rata di hotel bintang 5, fasilitas wifi biasanya tersedia di lobby dan public area, yang seringnya ‘nembus’ sampai loker dan area back house. So, nikmatilah saat-saat istirahat anda dengan internetan sepuasnya!
  • Jadi hotelier tak perlu kuliah dengan gelar berentet. Kerja di hotel hanya perlu skill. Kuliah perhotelan 1 tahun, bagi saya sudah cukup, asalkan didukung dengan pengalaman training di hotel yang berkualitas dan ditunjang dengan penguasaan bahasa asing yang bagus, tentunya. Sikap ramah, bersahabat dan murah senyum, juga jadi syarat utama yang harus ada.
  • Sakit? Ke klinik saja. Ada dokter dan ada obat. Gratis! Kalau ke rumah sakit, biasanya hotel punya kerjasama dengan beberapa rumah sakit tertentu, jadi tak perlu pusing masalah berobat, karena sudah menjadi bagian dari fasilitas associate.
  • Ketemu dengan berbagai macam orang asing. Bagi saya ini keuntungan tersendiri, karena selain bisa memperlancar bahasa Inggris saya dan bahasa asing non British lainnya seperti bahasa Jepang, saya juga banyak belajar mengenai kebiasaan-kebiasaan unik mereka. Kalau beruntung, kadang-kadang ada tamu asing yang suka membawa oleh-oleh dari negaranya dan dibagikan kepada staff hotel. Sewaktu di Bali, paling sering saya dapat permen susu dari tamu Korea, perangko Jepang dan mata uang asing dari berbagai Negara (jadi, sebisa mungkin jalinlah komunikasi yang baik dengan tamu anda)

Mmm…  kalau dipikir-pikir enak juga yah kerja di hotel. Eiiiitt…! Tunggu dulu! Sekarang saya mau kasih tahu gak enaknya kerja di hotel.



*)Koleksi Japanese stamp saya yang suka dikasih oleh salah satu repeater guest Jepang saya yang baik hati

GAK ENAKNYA:

  • Kerja seperti pembantu. Mau salah mau bener, yang namanya tamu adalah Raja. Yang namanya Raja pasti gak mau ngalah. So, harus pinter-pinter tahan diri  dan emosi jika sedang sial menghadapi tamu yang galak dan sok ‘raja’.
  • Yang namanya Frontliner kerjanya gak ada yang duduk! Semuanya berdiri sampai kram. Gak perduli jabatan anda manager, ya harus berdiri dan pasang senyum seharian karena anda sedang berada di Hospitality Industry. Kecuali kalau harus feed back email dan me-‘report’ (baca: repot) sana sini, baru deh bisa duduk.
  • 98% survey membuktikan, bahwa tamu yang tidak puas dengan pelayanan hotel entah itu di restaurant-nya, health club-nya, atau kamarnya, pasti deh ngadunya (baca: complainnya) ke Frontliner! Kadang-kadang, saking bernafsunya itu tamu saat complain, berasa semua kesalahan ada di frontliner. Ya dimaki-makilah, ya dimarahinlah… sudah jadi makanan sehari-hari.
  • Seringnya pulang gak bisa on time and bahkan seringnya harus  extend sukarela karena harus menyelesaikan tanggung jawab dan hand over ke shift berikutnya.
  • Repot ber-make up. Buat saya yang gak suka dandan, ber make-up adalah sebuah kerepotan tersendiri. Selain repot, waktu yang harus saya luangkan untuk make up juga lumayan, sekitar 20 menit. Means, 20 menit kalau dikonversikan dengan gaji saya per bulan kan nilainya lumayan, hehehe…Ooopppss! Perhitungan sekali ya saya...
  • Sekali lagi, kerja seperti Pembantu! Tamu yang bossy seringnya banyak maunya. Kadang-kadang harus multi skilled alias mengerjakan apa yang di luar job desc kita demi melayani tamu. Kali ini sih, bukan pembantu lagi, tapi Babu!

So, masih tertarikkah anda bekerja di Hotel???

Sunday, 25 September 2011

Break Sejenak dengan Rutinitasku


Dua bulan sudah saya vacum jarang menulis lagi… rasanya kangen sekali karena selama dua bulan itu banyak kejadian-kejadian yang rasanya wajib saya ceritakan. But, karena waktu yang hampir-hampir tidak ada, seperti biasa ide-ide yang ada terpakasa saya tulis sporadic di catatan kecil saya dan dipending dulu untuk digarap lain waktu kalau memang ada waktu luang. Yah, seperti sekarang ini contohnya.

Ehm..ehm… sok sibuk sekali ya saya….

Yah, begitulah kawan.. dua bulan ini saya mati-matian kejar target untuk karir dan kuliah. Bagi saya yang seorang pekerja full time apalagi yang jam kerjanya (mulai) 9jam perhari (karena seringnya harus extend alias lembur sukarela demi menyelesaikan sebuah pekerjaan yang belum selesai), susah sekali membagi waktu antara bekerja dan kuliah jarak jauh. Bayangkan saja, pulang kerja setelah capek-capek seharian menghadapi berbagai macam customer yang banyak maunya dan menghadapi berbagai macam staff dengan berbagai polah tingkahnya (yang seringnya tak masuk akal seperti satpam-satpam yang sering saya ceritakan, contohnya) membuat energy saya benar-benar terkuras dan membawa stress baru yang masih harus saya takhlukkan karena setelahnya saya harus mengikuti tutorial online dan mengerjakan tugas-tugas online yang telah terpending dan mengejar deadline demi mendapatkan nilai yang diinginkan.

Dan disela-sela mengerjakan tugas online yang kadang membosankan itulah kawan… seringnya saya malah ‘mengerjakan’ hal lain, misalnya update status di Facebook, buzz-buzz an dengan teman jauh saya lewat yahoo messenger, atau  curhat online di blog ini. And my life goes like that so simple… karena setelahnya gak terasa jam sudah menunjukkan jam 3 pagi, dan celakanya tugas yang sudah deadline belum juga selesai!
Alhasil, saya pun seringnya tidur kala pagi.. dan baru terbangun paling pagi sekitar jam 10. Tapi seringnya sih.. jam 11 atau 12.. yang kata orang sudah siang. Tapi bagi saya kok masih berasa pagi ya, karena mata ini masih sepeettt, benar-benar masih lengket tak mau terbuka. Hehehe… bangun siang kok bangga! Tuh, kan keterusan deh curhatnya!

But, kadang-kadang saya realize juga kok, kalau saya lebih konsen chatting dengan teman-teman dan curhat se’biadab’ mungkin sama mereka, ketimbang melanjutkan rutinitas saya menulis. And the rest of the reasons is my laziness. Ya, saya akui saya ini pemalas. Dan janji saya, mulai hari ini saya akan berusaha menghilangkan rasa malas saya dengan menjaga konsistensi saya dalam menulis. Cita-cita saya dari kecil memang menjadi penulis, walaupun hanya menuliskan pengalaman-pengalaman saya sehari-hari di blog.

Wish me luck as always guys!


Monday, 29 August 2011

Yao Ming VS Nate Robinson



Seumur-umur saya gak kenal NBA, atau dunia per-basket-an. Saat masih SMU, nilai olahraga saya selalu dibawah 7 karena saya paling malas berolahraga, dan juga tak mau tahu tentang olahraga. Jadi, dari SMU, saya tak kenal basket. Meskipun dulu pacar saya (ehm ehm..!) mantan pemain basket yang cukup disegani di sekolah, tak membuat saya menjadi tertarik untuk tahu lebih dalam mengenai basket.

Beberapa waktu yang lalu, hotel kedatangan seorang tamu VVIP, seorang atlet basket dunia. Saya, yang bukan penggila basket, adem ayem saja meski hotel sibuknya luar biasa menghadapi tamu yang satu ini. – saya sempat cerita kepada seorang teman bahwa ada tamu VVIP atlet basket dunia menginap di hotel saya dan teman tersebut jingkrak-jingkrak tidak karuan dan menodong saya untuk mendapatkan foto idolanya tersebut-- Haruskah saya bangga? Orang lain bilang saya beruntung karena bisa bertatap muka secara langsung, foto-foto bahkan mengobrol dengan atlet ini- tapi bagi saya tidak. You know what?

Saya yang harus incharge middle shift malam itu terpaksa harus extend hampir 1 jam karena RDM menugasi saya menjadi greeter yang akan mengalungkan bunga untuk tamu VVIP ini.  Informasi terakhir, sang bintang akan segera sampai dalam 10 menit. Dan selama itu juga saya bersiap-siap membawa kalungan bunga dan sempat mengobrol dengan beberapa staff lain. Seperti biasa, sekuriti yang aduh deh resenya, lagi-lagi merese’i saya.
“ Ntar mbak ngalungin bunganya sambil lompat ya Mbak, pemain basket kan biasanya tinggi-tinggi tuh. Mbak kan kuntet. Tar gak nyampek loohh…” tuh kan, bikin panas ati.

Karena males berantem, saya sih diem aja.

30 menit telah berlalu. Sang bintang tak juga ada tanda-tanda kemunculannya. Saya mulai gelisah. Melirik arloji. Duuuhhh…

20 menit kemudian, beberapa cameraman dadakan bermunculan. Mulai dari Chief Concierge, RDM, Duty Manager, male reception, GRO hingga  FOM, dan beberapa cameraman sungguhan dengan kamera SLR-nya dari pihak penyelenggara acara yang saat itu dari DBL arena, Surabaya. Tapi sang bintang yang ditunggu, belum muncul juga. Saya semakin gelisah.

But finally, sang bintang yang ditunggu-tunggupun datang. Sebuah mobil Alphard vellfire hitam dengan elegan masuk area lobby. Saya sempat deg-degan membayangkan seperti apa “penampakan” si bintang basket ini. Pikiran sayapun langsung melayang membayangkan Yao Ming, pebasket terkenal dari China yang tingginya lebih dari 2 meter. Dan saya perhatikan, memang rata-rata pebasket itu tinggi-tinggi lho.. gak cuma pebasket nasional atau yang internasional, pebasket lokal seperti teman saya dan harajuku juga tinggi. Kadang-kadang saya iri setengah mati kalau pas kebetulan harus foto-foto bareng. Saya yang Cuma 157 ini foto bareng harajuku yang 184? Hahaha… Silahkan ketawa. Memang hasilnya ‘lucu’ sekali! Opppsss…! Kelepasan curhat deh..

Oh ya, nama tamu VVIP yang bintang basket ini, Nate Robinson. Saya Cuma sekali ini mendengar namanya, dan sama sekali belum pernah melihat orangnya. Terbesit juga sedikit khawatir dengan ejekan dari kawan-kawan sekuriti yang mengatakan saya kuntet, takut sekali saya tak bisa mengalungkan bunga ke leher sang bintang karena saya kurang tinggi. Saya jadi kasihan pada diri saya sendiri dan menyesal sekali kenapa juga saya kurang tinggi! Hiks!

Dan sang bintang akhirnya menampakkan dirinya… yang pertama keluar dari mobil elegan tersebut adalah seorang bule bergaya hip hop tinggi besar mengenakan kaus putih, tapi manager saya bilang bukan itu orangnya. Selanjutnya yang keluar, masih seorang pria bule tinggi besar berkulit agak coklat yang senyum-senyum saja. Manager saya lagi-lagi berbisik, bukan dia. OK, saya pun sedikit relax dan mengamati si hip hop dan pria coklat yang smily tadi. Mungkin saking terpesonanya dengan pria hip hop, saya tak memperhatikan pria ketiga yang muncul, sampai manager saya mencolek bahu saya dan memberi aba-aba untuk mengalungkan bunga. Saya berbalik mengengok, sempat kaget tak percaya dengan apa yang saya lihat. Seorang pria kuntet (maaf, maksud saya pendek—kalau dibandingkan dengan 2 pria tadi, tingginya mungkin Cuma 170-an), item dan bajunya kelonggaran, tersenyum kepada saya seolah-olah menunggu acara pengalungan bunga. Saya pun buru-buru mengalungkan bunga kepada sang bintang (yang ternyata tak ada kesulitan sama sekali), kemudian disusul dengan jepretan kamera dimana-mana. Belum sempat rasa takjub saya hilang, dua orang pria bule lainnya datang dan langsung masuk ke body check security sambil… nunduk! OMG, body check kan tingginya 2 meter, kok ya masih nunduk! Lebih heboh lagi saat si bule tinggi banget ini malah berhenti di tengah-tengah body check yang bentuknya kotak itu, sampai kepalanya ‘nongol’ di tengah-tengahnya—mirip jerapah yang dikurung di kandang yang kesempitan. Melihat kami melongo, dia malah ketawa-ketawa setan membahana! Maksud loh..? Rasa shock saya masih belum hilang, saat seorang petugas dari DBL arena iseng-iseng cerita, seakan mengerti akan rasa penasaran saya,
“ Nate Robinson itu memang pendek mbak, tapi lompatannya setinggi 2 meter loohh..” saya pun otomatis ah ooohh.. gak jelas. Lah, yang tinggi-tinggi tadi siapa dongg…?
“ itu sih pelatihnya. Dulu sih pemain basket juga, dari Australia.”
Kali ini bukan ooohh lagi. Tapi glek! Saya keselek. 

Saturday, 30 July 2011

The Trouble of Room Inspection

Di hotel, room inspection adalah penting.

Jika anda adalah seorang frontliner seperti Guest Relation yang pekerjaannya adalah mengantar tamu ke kamar, berhati-hatilah! Jangan percaya kamar “A” statusnya sudah VC (vacant clean = sudah kosong dan sudah bersih) jika belum menginspeksi sendiri, karena bisa jadi system di computer yang setiap hari diublek ublek itu menipu. Lebih jauh, pihak housekeeping yang kadang-kadang lupa, salah mem-VC kan kamar. Kalau anda bekerja di hotel kecil yang jumlah kamarnya sedikit, mungkin not a big deal, alias masalah seperti ini bakalan jarang sekali terjadi. Tapi kalau hotel besar yang kamarnya hampir 800 kamar seperti hotel tempat saya training ini? Kejadian seperti itu bukanlah hal aneh. Malahan aneh kalau tidak pernah terjadi. Tak percaya?

Hari itu kebetulan saya kebagian mengantarkan dua orang tamu Jepang bermarga Suzuki seorang honeymooner (entah orang ini ada hubungannya dengan pemilik perusahaan Suzuki atau tidak), seperti biasa sayapun mulai menjelaskan beberapa fasilitas yang ada di hotel. Karena mereka bisa bahasa Inggris meskipun sedikit, saya tidak merasa kesulitan menjelaskan dan upsell beberapa paket makan yang tersedia.  Mereka sangat ramah dan gampang dikompori, baru juga sampai koridor kamar, mereka sudah terbujuk rayuan saya dan memesan paket candle light dinner di pantai dan  Spa massage, juga paket untuk Traditional Balinese food beserta Balinese Dance Live show. Wah wah wah… saya merasa menang saat itu karena point sudah di depan mata.

Saking senangnya, saya bahkan sudah menjelaskan beberapa fasilitas yang ada di kamar sebelum kami sampai di kamar. Sayapun sempat membocori bahwa di bath up mereka akan terset-up flower petal karena mereka adalah honeymooner. Tak terasa, tibalah kami bertiga di depan pintu. Setelah saya secara formalitas mengetuk pintu tiga kali dan memastikan kamar tersebut kosong, sayapun membuka pintu dan mempersilahkan mereka masuk. Dan OOOOOPPPPSSSS!!!

Kamar yang tadinya saya jelaskan fasilitasnya muluk- muluk, ternyata masih berantakan. Boro-boro ada flower petal di bath up-nya, yang ada hanya bathrobe (piyama mandi) tergeletak tak berdaya, dengan noda darah tepat persis di bagian atas menyilaukan mata. Duh…

Lagi, hari itu saya memang sial menghandle seorang Spanyol yang dari gelagatnya, tidak ramah. Mukanya itu lo.. aseeemmm banget. Si Spanyol keliatan semakin kucel mukanya, ketika kamar yang dia harapkan menghadap ke laut (ocean view room) tidak tersedia sesuai dengan yang telah dijanjikan oleh pihak reservasi. Setelah dibujuk dan ditawari ocean view room yang premium, si Spanyol akhirnya luluh. Jadilah saya mengantarkan tamu ini ke kamar yang dimaksud. Begitu masuk kamar, si Spanyol tidak happy dan menolak karena view ocean yang ditawarkan (masih juga) tidak sesuai dengan ekspektasinya. Jadilah, si Spanyol diupgrade ke kamar yang lebih bagus, yaitu junior suite yang view oceannya bagus, sebagai bentuk recovery hotel terhadap complaint dari tamu. Ya sudah, jadilah saya mengantarkan tamu yang air mukanya sudah kaya air kobokan itu ke kamar Junior suite. Saya sudah geregetan setengah mati tapi apa boleh buat, ya saya antar saja. Begitu saya buka pintu, ehhh… bertenggerlah seorang engineering di atas tangga, sedang membetulkan AC. Melihat saya dan tamu Spanyol itu masuk, si Engineering malah nyengir kuda. Tamu saya? Siap-siap mau nelen saya. Help!

Friday, 29 July 2011

Profesor oh Profesor!

Kebanyakan staff sudah hafal dengan beberapa tamu yang sudah jadi member atau seorang guest repeater, apalagi jika si tamu akrab dengan staff, kadang-kadang si tamu akan diperlakukan lebih personal. Seperti kali ini. Ada seorang tamu bapak-bapak berumur sekitar 60-an, namanya sih saya tak tahu, tapi kebanyakan staff disini memanggilnya pak professor. Si pak profesor ini terburu-buru mengambil mobilnya. Kebetulan mobil pak prof ini di-valeykan di halaman depan hotel. Si pak prof dengan santai menyerahkan docket valley kepada seorang staff, lalu meminta kunci mobilnya. Saya sempat melihat petugas valley sudah hendak mengambilkan mobilnya, tapi si prof malah meminta kunci dan mengambil mobilnya sendiri.

Well, si prof dengan sedikit tergesa menghampiri mobilnya yang ternyata sebuah mobil Pajero sport warna putih berplat nomor DK. Di sebelah kiri mobil professor, bertengger sebuah Mercedez S500 yang masih kinyis-kinyis menyilaukan mata, sedangkan di sebelah kanannya terparkir sebuah Alphard Vellfire hitam yang membuat ngiler siapapun yang melihat.

Tanpa ragu, pak prof segera tancap gas, ssshhhuuuuttt…! Meluncur ke depan, lalu mengambil haluan hendak berbelok ke kanan, mundur sedikit dan… Braaaakkk! Pak professor menabrak Mercy! Si Mercy malang yang tadinya anggun menantang, kini bagian depannya penyok mencolok mata. Aduuhh…

Automatically, petugas valley pun sibuk berlarian ke tempat kejadian.  Saya lihat Concierge manager dan beberapa supervisor juga datang. Accident report segera dibuat. Dari kesepakatan yang telah disepakati, pihak hotel tidak bertanggung jawab atas kecelakaan ini, namun pak prof akan menyelesaikan sendiri permasalahan ini dengan pemilik Mercy. Malahan, pak prof sempat dengan sombongnya mengatakan,
“Kalau pemiliknya minta ganti, saya akan belikan mobil baru!” dan setelah itu pak prof buru-buru ngacir entah kemana.

8 jam kemudian…

Pemilik Mercy yang ternyata seorang mas mas ganteng, mengklaim mobilnya. Petugas valley yang saat itu sedang bertugas, segera memanggil  SPV untuk menjelaskan kronologi kejadian yang menimpa mobilnya. 

Seperti telah diduga, si mas-mas ngamuk-ngamuk.
"Apa? Kok bisa mobil saya ditabrak?" Si mas-mas ini merah mukanya.
" Jadi kejadiannya begi…"
" Kamu tahu itu mobil baru sekali ini saya kendarai tau! Lihat itu plat nomornya! Itu baru seminggu keluar STNK-nya. Belum juga sempat saya bawa kemana-mana. Sudah penyok!
"Iya Pak, yang nabrak juga akan bertanggung ja…"
" Huh, mana mungkin dia mau ganti rugi kerusakan mobil saya. Ini mobil mahal! Mobil import! Mobil ini sudah penyok! Kalau mau memperbaiki kamu tahu berapa juta, hah? Gaji kamu setahunpun gak akan cukup!"
Duh… ini orang memang sudah keterlaluan. Si SPV saya lihat sudah mulai merah mukanya.

Ketika SPV hendak menjelaskan, eh kebetulan pak prof datang. Jadilah SPV saya langsung menggiring pemilik mobil untuk bertemu dengan pak prof. Tanpa saya duga, si mas mas ini attitude-nya berubah 180 derajat ketika bertemu dengan pak prof. Jadi maniiiisss…  dan sopan. Pake Tanya kabar segala.

Pak prof to the point langsung tanya ke mas-mas itu,
"Jadi yang saya tabrak tadi mobil kamu?"
"Iya, Pak prof. Tapi tidak apa-apa kok, penyok sedikit saja!"
Busseeeettt… penyok dikit katanya! Ehm - ehm! Lupa ya mas, ini kan mobil mahaaalll…?

"Ok, nanti saya secepatnya uruskan pembelian mobil baru." Pak prof  menyatakan pertanggungjawabannya.
Eh.. si mas-mas sok jaim nolak.
"Gak usah prof.. bener kok ini gak apa-apa. Hehehe…"

Si mas-mas munafik dan pak professor akhirnya jabatan tangan. Lalu pak prof berlalu.

Si mas-mas menghampiri SPV saya,
"Tadi kenapa gak bilang-bilang ke saya kalau yang nabrak mobil saya itu pak Prof??? Beliau itu professor saya, kalau bisa saya malah belikan beliau mobil, bukannya saya yang dibelikan!"
Aduuhh…

Kalau saya jadi SPV saya yang super sabar itu, sudah habis saya maki-maki deh mas-mas itu kalau (saja dia bukan tamu di hotel saya). Hehehe...

Wednesday, 27 July 2011

Gara-gara Naruto


Saya (entah berapa kalinya) mengatakan kalau saya paling benci harus incharge di lobby apalagi harus bersama satpam - maksud saya sekuriti (bodo amat!) karena seringnya saya jadi ilfil dan hilang kesabaran karena harus eyel-eyelan ngobrolin hal gak mutu yang akhirnya bisa membuat saya dongkol dan uring-uringan seharian. Tapi ibarat pepatah jawa yang bilang “digething nyanding”, alias apa yang kita benci itu malahan semakin mendekat, saya kok ya sering sekali harus kerja bareng orang-orang yang saya tidak suka. Herannya, hari ini dengan mas A lain waktu dengan mas B, kok ya mereka hampir sama menyebalkannya! Ibarat mati satu tumbuh seribu, begitulah saya jadi bulan-bulanan mereka setiap kali harus kerja bareng mereka. Kalau tidak pandai-pandai mengelak, incharge bersama mereka sudah selayaknya  tes mental buat saya. Huft…!

Seperti kejadian hari ini. Bukan, sama sekali bukan masalah tip atau hari jadi Amerika. Hari ini masalahnya Naruto. Yep, kartun Jepang yang digandrungi banyak penggemar di seantero dunia itu, jadi topik utama mas satpam dan saya, sekaligus menjadi bahan obrolan yang bikin saya jengkel, ilfil, males, sekaligus konyol. Si mas-mas satpam yang baru saja incharge ini kok ya langsung to the point mereseki saya.
“Mbak suka Naruto gak?” Dia, selalu dia duluan yang membuka pembicaraan.
“ Memangnya kenapa?” Jawab saya yang sewot. Si satpam nyengir kuda.
“ Yaaah.. hari gini gak tau Naruto. Mbak ketinggalan jaman sekali. Palingan mbak taunya Doraemon atau Sailormoon. Itu sih udah jadul mbak…” tuh kan, bikin gara-gara lagi.
“ Siapa yang bilang gak tau?”, saya membela diri. “ Tadi saya kan Cuma nanya memangnya kenapa?”
“ Alah, udah deh mbak… biasanya cewek sukanya Chibi Chibi apa tuh…” si Satpam garuk-garuk kepala.
“ Chibi Maruko Chan maksudnya?” Si satpam nyengir kaya anak kecil gak punya dosa.

Hening.

“ Tahu tidak mbak, anggota akatsuki yang namanya pein itu loh, kuat banget. Tak terkalahkan!” si satpam berapi-api.
“ Pein akhirnya mati kena rasengan Naruto tau!” Si satpam melotot gak percaya. Trus ngeyel-ngeyel, mengatai saya sok tau, sok ngarang-ngarang cerita, dan sebagainya. Makin panas deh kuping saya mendengarnya.
“ Mas, itu episode Naruto bunuh pein sih saya sudah tahu jauh sebelum saya kerja di sini. Jangankan episode pein, yang kakaknya naruto si Uzumaki Arashi keluar, saya sudah tahu!” saya pun tak tanggung-tanggung nyombong, padahal si uzumaki arashi keluar itu masih lama tayangnya. Saya tahunya dari browsing-browsing iseng ke milis-milis penggemar Naruto untuk mendapatkan informasi terakhir mengenai kelanjutan kisah Naruto. Hehehehe…


*)Pein, Idola saya

Eh, tapi bualan saya manjur loh. Si Satpam terbengong-bengong trus tanya,
“Lah mbak tahunya dari mana? Aku saja yang rajin baca komik pinjeman nyampek kemunculan pein itu sudah yang paling terbaru.”
Sampai disini saya ngakak habis-habisan, dan tentunya juga anda yang ngakunya penggemar Naruto. Ya kan?
“Ya elah mas, hari gini kan banyak situs-situs penyedia film-film terbaru yang bisa di download gratisan! Saya sih punya ratusan film Naruto yang saya simpan di hardisk setelah saya download!”


Tahukah anda, yang sebenarnya rajin download film naruto itu Harajuku dan Aziz, saya sih tinggal copy dari laptop mereka. Saya pakai internet yang berkuota, jadi kan sayang kalau download film dengan kapasitas besar trus kuota saya habis dan speed internet saya jadi anjlok. Dan aslinya, saya suka Naruto gara-gara penasaran melihat azis dan Harajuku yang selalu antusias dan tidak bisa diganggu kalau sedang nonton berdua. Belum lagi kalau sedang debat mengenai tokoh favorit mereka, Pein dan Sasuke - meskipun mereka ini musuhan - tapi kok ya kelihatannya tak ada habisnya. Iseng-iseng suatu kali saya ikutan nonton dan langsung suka. Jadi begitulah, meski tak tahu sejarah dari awalnya, tapi sejak saat itu saya tak pernah absen menantikan tiap edisi barunya. It’s my secret.




*)-Nyombong mode on-folder Film Naruto yang tersimpan di hardisk saya


Dan s
i mas satpam makin melongo.

“ Situs? Situs apaan mbak?” tanpa curiga, mulailah saya nyerocos kasih tahu beberapa situs yang sering saya kunjungi untuk download. Tapi kok ya si mas satpam ini kelihatan tambah bingung.

“ Itu gimana caranya mbak?”

“Ya gampang mas tinggal download saja.”

“Caranya download itu gimana?” Nah loh? Jadinya saya yang gantian melongo.

“Dulu saya ini mau diajarin internet loh mbak sama teman. Biaya kursusnya Cuma 100ribu per bulan. Tapi saya tak bisa karena sibuk tak ada waktu.” 
Nah, sampai disini saya tak tahu apa harus tertawa atau menangis kasihan. Minta diajarin sama mas-mas penjaga warnet aja mas... kalau Cuma ngasih tahu caranya googling sih, gratis atuh!
“ Oh ya, Facebooknya mbak apa? Nanti biar q add.” Katanya lagi. Saya bengong. Kaget.

“Oh, punya Facebook ya?” tanya saya. Lah heran. Internet gak tahu itu makanan apaan kok, facebook tahu.

 “ Yah, ada lah mbak. Hari gini gak punya facebook!” dia sewot berat. Sampe monyong 5 centi deh itu bibirnya.

“ Kasihan banget mbak ini, Hpnya masih jadul ya, gak ada facebooknya?” dia mencoba mencibir saya. 

Usut diusut, ternyata HP dia yang merk-merk china yang punya shortcut facebook pemirsa! Jadi dikiranya dia, Facebook itu aplikasi Java bawaan HP! Ya oloh mas... tapi saya jadi malas kasih tahu, karena kalau saya bilang facebook itu situs jejaring sosial yang ada di internet, dia pasti ngamuk-ngamuk dan ngeyel bilang kalau facebook itu aplikasi Java di hape yang dijalankan dengan GPRS (padahal dia juga gak tahu GPRS itu apaan) trus nyedot pulsa setelah pemakaian sekian menit. Duh!


“Oh ya mbak, q mau dong nonton naruto-nya. Katanya punya banyak di laptop.”

“Boleh. Kapan?”

“Mmmm... kalau pulang kerja gimana mbak? Di loading dock aja. Tapi... di loading dock kan gak ada internet kaya di lobby ya? Mana bisa nonton?” 
You know pemirsa, yang dimaksud dia itu, di loading dock kan tidak ada wifi-nya, jadi dia takut gak bisa nonton karena dikiranya dia nonton film yang sudah saya download itu masih harus online. ON-LI-NE!

“ Bisa mas, tapi aku Cuma bisa kasih lihat 1 film aja ya? 1 film durasinya udah 25 menitan. Ntar aku kemaleman pulangnya.”

“ Tapi aku mau nonton semuanya. Dikopi deh dikopi.”

“ Mmm... boleh deh. Kalau gitu siapkan flash disk aja. Nanti aku kopikan yang banyak. Ntar kamu bisa nonton di warnet atau kalo punya DVD yang ada USB port-nya, bisa juga dicolokin di situ.” Si mas Satpam mengangguk-angguk.

“ Tapi mbak.. flash disk itu apaan ya?”  Gubrak!

.............................

Sekian pemirsa. Saya tak tahu lagi bagaimana cara menjelaskannya. Saya akui saya ini gaptek, ndeso dan unsophisticated. But at least saya sudah pernah kenal apa itu Flash disk.